Jangan Terlalu Fanatik dengan Politik

Terkadang prihatin dengan kondisi sosial di Indonesia, terutama jika melihat dari komentar-komentar di media sosial. Ya, boleh dibilang ini akibat hiruk pikuk politik praktis di Indonesia.

Apalagi sejak kepulangan salah satu tokoh agama yang dikenal dengan aktifitasnya sangar dalam memerangi kemungkaran. Rakyat dibikin heboh, dengan komentar-komentar netizen yang pro maupun kontra. Pemberitaan di stasiun televisi berulang-ulang semakin menambah kecemasan bagi rakyat jelata, yang terkadang tidak tahu apa-apa.

Sering saya amati ada orang yang menggembar-gemborkan persatuan bangsa, tetapi di sisi lain dia menghujat, memprovokasi dan melontarkan perkataan kasar yang penuh penghinaan. Bagaimana bersatu jika kau hina diriku dengan kata-kata seperti itu???

Sebaiknya tidak perlu demikian, karena Politik itu hanyalah permainan, sandiwara dan siasat untuk meraih kekuasaan di suatu negara yang berhaluan demokrasi.

Banyak anak-anak milenial yang tentu saja secara tidak langsung dicekoki oleh agitasi-agitasi melalui kalimat-kalimat yang sarat akan unsur politis yang sebenarnya mereka juga tidak tahu kondisi nyata. Mereka hanya melihat dari tweet-an di media sosial, kelihatan seru dan kemudian langsung ditiru.

Apalagi ditambah adanya masa netizen bayaran, mirip dengan masa bayaran yang dibayar di saat demo.

Berkontribusi pada per-Politikan bukan suatu yang dosa, bahkan dianjurkan bagi anak muda. Namun harus diajarkan dengan cara yang benar. Pemuda yang berakhlak baik tentunya harus didorong untuk berpolitik karena jika tidak maka para penjahat dan koruptor yang berpolitiklah yang akan menjadi pemimpin daerah atau negara

Demokrasi yang Indonesia alami ini, semakin mengarah model negara-negara Barat lainnya. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, di sana sudah menjadi kebiasaan bagi partai Demokrat melawan pendukung partai Republik untuk saling mengkritisi. Saling mengungkit kesalahan tanpa memberikan solusi itu sudah jadi adat dan kebiasaan mereka. Penggunaan sindiran bahkan kalimat penghinaan menjadi tontonan sehari-hari di negara itu.

Bagi mereka, mungkin gaya politik seperti itu cocok bagi negara yang dibangun oleh peradaban eropa dan mewarisi budaya politik eropa. Dengan rakyat yang berasal dari berbagai ras, multi etnis, agama dan kepercayaan, mereka harus membangun suatu sistem yang sesuai dengan karakter manusia-manusia di sana.

Bagi orang Indonesia yang pernah ke Amerika Serikat, mungkin pernah merasakan perilaku sebagian besar warganya. Secara pribadi, saya melihat keterbukaan, professional dan rasa percaya diri yang tinggi menjadi ciri khas yang menonjol. Mereka sudah terbiasa dikritisi, bagi mereka seorang anak muda mengkritisi orang yang lebih tua itu sudah biasa.

Sedangkan di Indonesia, perpolitikan dibangun dengan cara yang berbeda. Jauh berbeda dengan negara-negara Barat sana.

Mengapa beda? Ya tentu saja dong. Manusianya beda, kulturnya beda, makanannya beda, iklimnya beda, alamnya beda.

Apa hubungannya dengan politik? Tentu saja ada. Meskipun kita mengadopsi gaya demokrasi trias politica yang kita impor dari Eropa, tetap saja yang menjalankan sistem tersebut adalah orang Indonesia sendiri.

Mayoritas orang Indonesia, dan beberapa orang Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Malaysia, Vietnam , Thailand sangat terkenal dengan sifat ramah tamah, bersahabat, sopan santun, menghargai yang lebih tua dan kekeluargaan tinggi.

Tutur Bahasa terkenal santun dan ramah kepada semua orang menjadi ciri khas yang sulit ditandingi oleh ras lain.

Lagi pula seperti yang disampaikan tadi, politik itu hanya sandiwara elit politik belaka. Contohnya pada saat Pilpres 2019 yang menghasilkan dua kutub yang berseberangan “Cebong -Kampret”, ternyata setelah terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo, saingannya Prabowo Subianto malah menjadi partnernya presiden, sebagai Menteri Pertahanan. Tetapi polarisasi cebong-kampret masih terasa sampai sekarang.

Tapi akibat hujat menghujat antar pendukung, masuk ke hati. Timbul dendam di sebagian orang sampai sekarang dan merusak pertemanan.

Dengan begitu demokrasi yang dijalankan tidak perlu meniru persis seperti orang-orang Amerika ataupun Eropa. Politik yang penuh penghujatan, penghinaan dan kata-kata pedas. Karena bagi kebanyakan orang Timur, meskipun yang disampaikan benar tetapi disampaikan dengan kata-kata kasar biasanya tidak akan diterima bagi yang mendengar. Setidaknya timbul rasa antipasti terhadap orang yang menghujat itu.

Anak-anak muda harus mengerti politik namun politik secara santun. Mengkritik orang yang tidak sealiran politik dengan kita boleh saja, tetapi hendaknya kritikan yang solutif dan tidak menyakiti perasaan apalagi membawa SARA.

Tetaplah berdemokrasi Pancasila secara santun karena kita orang Indonesia.

Seperti yang yang disampaikan Bung Karno “Kalau jadi hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang islam jangan jadi orang Arab, kalau kristen jangan jadi orang yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini

1 Comment

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s