Bahagianya Jadi Orang Pendek

Saya punya sepupu sebut saja Dian, umurnya dua tahun lebih muda. Sekitar tahun 200an, dia masih berumur sekitar 15an tahun. Suatu saat dia curhat kepada saya, dia sedih karena menurutnya tubuhnya tidak terlalu tinggi. Karena itu, dia tidak pernah baris di paling depan dan tidak terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera 17 Agustusan.

Padahal, Dian ini ingin sekali menjadi Paskibra. Dian semakin iri, tatkala temannya yang dipilih mewakilinya sekolahnya untuk menjadi Paskibra akhirnya berhasil menjadi anggota Paskibraka yang mengibarkan bendera di istana negara.

Saya sebagai sepupu akrabnya menasehatinya bahwa seharusnya dia tidak perlu sedih.

Menjadi orang tinggi itu sebenarnya sangat tidak mudah. Memang dia mudah dikenal karena tingginya, tetapi dia juga akan mudah ketahuan jika bolos upacara bendera. Orang tinggi mungkin terlihat keren dibanding orang pendek, namun biasanya orang tinggi itu agak susah mencari pakaian dan sepatu yang cocok bagi mereka.

Hal ini sama juga dengan orang yang selalu rangking satu. Sang juara ini belum tentu selalu Bahagia atas pencapaiannya itu. Terkadang bagi beberapa orang, prestasi itu menjadi beban. Bagi yang tidak bijak dan kuat mentalnya, anak ini akan menjadi stress dan frustasi ketika dia tidak menjadi juara. Atau bahkan bisa menyalahkan orang yang berhasil menyalip prestasinya.

Kejadian ini pernah saya dengar dari teman saya yang pada tahun 2000an sekolah di SMU Taruna Nusantara, sekolah yang waktu itu sangat keren karena banyak juara siswa teladan dari setiap provinsi yang berhasil diterima di sana.

Teman karib saya ini sebut saja Amir. Dia adalah juara umum bertahan di salah satu SMP negeri Payakumbuh. Namun apadaya Amir harus mengalami kejutan psikologis ketika dia tidak pernah menjadi juara kelas di SMA itu. Bahkan di awal bersekolah di Magelang itu, Amir sering merasa tertekan akibat nilai-nilainya yang nyaris sedikit di atas nilai minimum setiap kali ada ujian.

Untungnya setelah hampir setahun di sana si Amir bisa mengendalikan rasa ketidaknyamanan tersebut. Dia pada akhirnya menyadari bahwa bukan hanya dirinya sendiri merasakan, banyak temannya juga mengalami hal yang serupa. Karena tidak mungkin semua menjadi juara 1, lebih-lebih di sekolah yang inputnya dari siswa terbaik seluruh Indonesia.

Dan si Amir pun mulai menikmati menjadi siswa “biasa-biasa” saja.

Bagi saya, menjadi orang “biasa-biasa” saja itu banyak untungnya. Kita bisa bergaul dengan semua kalangan karena orang-orang yang demikian sangat banyak jumlahnya.

Saya juga tidak perlu terlalu jaim karena merasa saya bukan menjadi pusat perhatian. Tidak perlu terbebani untuk dilihat sebagai yang terbaik, yang tertinggi, atau yang terhebat.

Tidak perlu merasa malu sekali jika melakukan kesalahan kecil karena merasa belum tentu orang memperhatikan tindak tanduk kita setiap saat.

Maka, tidak perlu iri ketika melihat Gibran anak Presiden, ataupun Bobby Nasution mantu Presiden yang masih sangat muda yang berdasarkan hasil Quick Count berhasil mengungguli lawan politiknya dalam Pilkada.

Karena jika mereka sudah terpilih mereka akan menjadi sosok “tertinggi” dan “juara umum” tadi. Menjadi pusat perhatian yang setiap tingkah lakunya menjadi pembicaraan orang.

Photo by Ben Mack on Pexels.com

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s