Menjadi Pemimpin di Masa Sulit, Tidak Segampang Bacot

Pejabat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama., Ketua RT, RW, Lurah, Camat dst….adalah pemimpin. Menjadi pemimpin yang bertanggung jawab sangat tidak mudah, apalagi di masa sulit seperti ini.

Kondisi pandemik di Indonesia masih pelik. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melindungi rakyat dari penyakit. Sebagian masyarakat menjerit karena terganggu asap dapurnya. Kebijakan PPKM pun dsinyalir tidak berjalan optimal. Alih-alih membuat rakyat berdisiplin, justru PPKM ini dicurangi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ironisnya dilakukan pula oleh pejabat atau tokoh masyarakat yang tentu saja memperburuk keadaan.

Apapun bentuk kebijakan dan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berjalan dengan baik, apabila dicontohkan oleh tokoh publik dan pejabat itu sendiri. Apalagi di tengah krisis seperti ini, pemimpin mulai dari tingkat terendah sampai negara harus memberikan tauladan yang benar sesuai aturan. Apabila seorang pemimpin telah memberikan contoh, tentu saja ada rasa percaya diri dan keberanian untuk memberikan teguran sampai hukuman kepada masyarakat yang melanggarnya.

Sayangnya, kita melihat ada lurah atau kepala desa yang malah menggelar hajatan mengundang orang banyak. Atau Menteri yang korupsi bantuan sosial untuk rakyat miskin yang terdampak oleh pandemik. Banyak pejabat mulai dari tingkat RT atau tokoh masyarakat lainnya yang melakukan hal yang serupa.

Orang-orang seperti ini tentu saja bukan contoh yang baik dan tidak pantas untuk ditiru. Mereka ini tidak akan memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk menegakkan aturan kepada bawahannya atau masyarakat di bawah tanggung jawabnya. Jikapun mereka berani menegakan aturan maka tidak akan diikuti sepenuh hati oleh orang lain.

Justru di saat genting seperti inilah akan tampak sifat asli seorang pejabat atau pemimpin.

Pemimpin yang berdisiplin tentu saja akan menaati aturan yang dia sendiri ciptakan, bukan justru menjadi orang yang melanggarnya dengan mengatasnamakan “privilege” atau “saya kan pejabat!!!”. Bahkan saat ini adalah saat yang paling berat bagi para pemimpin untuk memberikan tauladan.

Situasi seperti ini pula yang mengharuskan pemimpin berada di tengah orang-orang yang dipimpin. Dia tidak boleh lari dari tanggung jawab dengan berpergian ke luar negeri atau malah bersantai ria ke tempat pariwisata misalnya. Pemimpin sangat harus merasakan penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat, sehingga perilaku dan kebijakan yang diambil tepat sasaran, sesuai dengan kadar yang dibutuhkan masyarakat.

Model ketauladanan seperti ini semestinya bersifat dari atas ke bawah, bukan bottom up. Persis seperti pepatah guru kencing berdiri, murid kencing berlari, begitulah kira-kira bagaimana perilaku seorang pemimpin berdampak bagi bawahannya. Menjadi pemimpin atau pejabat, tentu saja memiliki kuasa untuk memberikan reward ataupun punishment bagi bawahannya yang mempermudah mengatur perilaku bawahannya tadi. Sebaliknya, perilaku positif seorang bawahan atau masyarakat kecil hanya akan menginspirasi sebagian kecil orang lain karena tidak ada paksaan atau tekanan bagi orang yang tidak mencontohnya.

Pemimpin juga dituntut untuk bersikap jujur dan adil serta peka. Bansos yang diberikan juga harus diberikan kepada yang berhak bukan malah diberikan kepada sanak saudaranya yang berkecukupan. Adil, dia harus pula memberikan hukuman bagi keluarganya jika memang melanggar, maka keluarga harus selalu diberikan pengertian, bukan malah aji mumpung. Pemimpin pula harus peka akan kesusahan dan bisa memberikan solusi nyata atau setidaknya memperingan penderitaan.

Khusus pada saat kritis maka dibutuhkan pemimpin yang tegas. Mengatur masyarakat tentu saja tidak semudah mengatur diri sendiri, maka itu perlu dibuat sistem atau aturan. Dengan sistem dan aturan ini akan mempermudah pejabat untuk menerapkan standar sehingga keputusan yang diambil akan adil berdasarkan aturan yang disepakati. Dalam sebuah komunitas, sangat lazim terjadi jika seorang yang berperilaku tidak sesuai aturan namun tidak ditindak maka yang lain akan mengikuti. Oleh karenanya, pemimpin harus tegas berdasarkan norma dan aturan yang disepakati.

Pun hal ini berlaku bagi aparat penegak aturan seperti TNI, Polri maupun Satpol PP yang kerap menghiasi layar televisi melakukan penyekatan dan penegakan aturan PPKM. Maka layak diapresiasi keputusan Gubernur DKI untuk memecat oknum Satpol PP yang malah makan di warung di malam hari. Ini salah satu contoh untuk memastikan pemerintah tidak jatuh wibawanya di mata masyarakat yang sedang kesusahan.

Untuk menjadi pemimpin yang hebat di situasi sempit ini, tauladan saja tidak cukup, dia juga harus mampu berfikir cerdas dan solutif. Rakyat berharap pejabat yang diberikan tanggung jawab mengatur warganya untuk memberikan program yang dapat memecahkan persoalan yang tidak mudah ini. Bagaimana mengatur masyarakat agar tetap di rumah namun tetap bisa makan dan kebutuhan dasar lainnya seperti sewa rumah dan layanan kesehatan dapat tercukupi.

Maka, dibutuhkan pemimpin yang berpengalaman dan cerdas. Tanpa kedua elemen ini, kebijakan yang dikeluarkan akan tumpul karena tidak diiringi dengan perhitungan yang nalar. Pengalaman akan membentuk karakter pemimpin ini menjadi lebih efektif dan bijak dalam mengatur masyarakat.

Masih bilang enak jadi pejabat???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s