Cinta Damai, Tetapi Lebih Cinta Kemerdekaan

Sejarah membuktikan jika pendudukan bangsa asing selalu membawa petaka bagi bangsa pribumi. Invasi bangsa Eropa ke berbagai wilayah Asia sebagai contoh, entah itu dengan kedok perdagangan ataupun bantuan militer selalu berakhir tragis bagi penduduk asli.

Baru saja kita melihat tragedi kemanusian, penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, yang hanya menimbulkan kekacauan bukan hanya untuk penduduk Afghanistan saja tetapi juga negara lain, terutama yang memiliki kepentingan di sana.

Sejak tahun 2001,setelah tragedy 9/11, pasukan Amerika Serikat menduduki Afghanistan,melatih pasukan lokal untuk memerangi Taliban. Pada awal kedatangannya AS menginfiltrasi Afghanistan atas nama War of Terror, dengan alasan menggulingkan Al Qaeda, yang tumbuh subur di Afghanistan. AS dan sekutu berhasil menggulingkan pemerintah Taliban yang dituduh membiarkan dan mendukung Al Qaeda.

Penggulingan ini tentu saja memberikan kabar gembira bagi penduduk Afghanistan yang kontra terhadap Taliban yang konon pada masa kekuasaannya banyak melakukan kekerasan dan pelangggaran HAM serta sangat membatasi emansipasi Wanita.

Taliban sebagian besar beranggotakan warga negara Afghanistan sedangkan lawan politik dan masyarakat yang dihukumnya juga orang Afghanistan.

Selanjutnya, AS kebablasan.  Eksistensi pasukan AS dan sekutunya di Afghanistan berlangsung kurang lebih 20 tahun lamanya.

Dalam kurun waktu yang lama itu, dengan bantuan AS yang melatih dan mendanai perekrutan dan pelatihan tentara lokal, pemerintahan Afghanistan seharusnya sudah memiliki pasukan militer yang kuat. Tetapi yang terjadi adalah kekalahan yang cepat dan memalukan.

Pasukan Taliban hanya dalam hitungan minggu mampu menggulingkan pemerintah Ashraf Ghani dan memasuki ibu kota Kabul tepat pada tanggal 15 Agustus 2021, dua hari sebelum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Segera setelah Kabul berhasil diduduki oleh Taliban, terjadi kepanikan, ribuan bahkan mungkin ratusan ribu penduduk Afghanistan berbondong-bondong mencoba mengungsi ke luar negeri. Dan terjadi kekhawatiran bahwa pemerintahan Taliban akan mengeksekusi rakyat Afghanistan terutama yang selama ini menjadi kaki tangan pemerintah boneka AS.

Dari penggalan kejadian di Afghanistan itu, ada pelajaran yang dapat diambil.

Yaitu, bangsa asing tidak akan pernah tulus untuk membantu bangsa pribumi

Mengambil contoh dari invasi AS di Vietnam, Irak, dan Aghanistan ini pada akhirnya hanya menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat pribumi. Ketika ditinggal oleh AS, yang terjadi hanyalah perang saudara dan kekacauan.

Justru bangsa pribumi itulah yang harus menyelesaikan kekacauan yang ditimbulkan oleh bangsa asing itu. Contoh yang gamblang, Vietnam menjadi stabil sampai dengan saat ini karena pemimpin Vietnam yang melobi dan mendamaikan pihak-pihak internal yang bertikai.

Irak sejak jatuhnya pemerintah Saddam Hussein, menjadi kacau dan pertumpahan darah terjadi dimana-mana. Bahkan beberapa kota di Irak jatuh ke tangan ISIS,yang menjadi tempat para ekstrimis Islam dunia berkumpul.

Bangsa asing hanya datang untuk tujuan negaranya semata tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi bagi penduduk pribumi.

Indonesia juga mengalami hal yang serupa sebelum kemerdekaan. Bangsa Belanda dapat bercokol di nusantara dan kemudian mengkolonisasi, pada mulanya akibat symbiosis mutualisme dari VOC dan penguasa setempat.

Saat itu sering terjadi konflik internal kerajaan antar bangsawan. Kelompok yang inferior bersekutu dengan VOC yang memiliki persenjataan dan perlengkapan lebih modern untuk memberangus lawan politiknya yang sudah barang tentu saudara sebangsa sendiri.

Yang terjadi setelah itu,Belanda bercokol di Indonesia konon selama 350 tahun lamanya.

Begitu pula Jepang. Dengan jargon saudara tua Asia, Jepang seolah-olah akan membantu Indonesia, tetapi yang terjadi adalah eksploitasi SDM, SDA dan bahkan perempuan-perempuan Indonesia dijadikan pemuas nafsu bangsa Nipon itu. Bangsa asing hanyalah mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Itu saja.

Dengan sifat bangsa asing yang hanya mementingkan dirinya sendiri seperti itu, maka ke depan, rakyat Indonesia tentu tidak boleh lagi meminta bantuan asing untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar anak bangsa.

Permasalahan yang terjadi antara anak bangsa ibarat kakak beradik yang bertengkar karena memperebutkan sesuatu, maka yang bisa menyelesaikannya hanyalah internal keluarga itu. Karena kelak bangsa asing akan meminta kompensasi atas bantuan yang diberikan.

Jangan sampai kemerdekaan di bidang ekonomi, politik, tekhnologi, pangan, dan lain sebagainya diserahkan kepada bangsa asing sebagai bentuk kompensasi itu.

 “Lebih baik Mati Berkalang Tanah daripada Hidup dalam Penjajahan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s