Tidak Perlu Korupsi Untuk Kaya

Kenapa?????

Terkisahlah seorang laki-laki, anggap saja namanya Tampan.

Si Tampan ini ingin menjadi kaya agar dihormati orang yang mengenalnya. Selama ini laki-laki ini hidup sederhana dan sedikit di atas garis miskin.Dia seorang abdi negara yang berpangkat rendah dan bergaji “cukup. Cukup untuk makan sehari-hari, ngontrak rumah, dan uang tabungan yang bisa disisihkan untuk keperluan darurat. Seringkali ia disindir dan diremehkan oleh orang yang mengenalnya.

Apapun dilakukannya untuk menggapai mimpi “menjadi orang yang dihormati”. “.

Seiring waktu, akhirnya si Tampan ini menemukan celah korupsi, yang pada awalnya hanya sekedar mengambil selisih uang kantor ribuan sampai dengan menerima suap dari pengusaha yang berurusan dengan perizinan di kantornya.

Si Tampan pun menjadi kaya raya, anak dan istrinya pun senang. Rumah dan mobil mewah pun dimilikinya. Sekilas, beberapa tetangga yang tidak terlalu mengerti pekerjaan tampan menaruh respek kepada keluarga ini.

Puja-puji tetangga kanan dan kiri serta teman-teman si Tampan pun berdatangan, apalagi Tampan selalu rajin berbagai rezeki dan mengadakan kenduri.

Namun itu tidak bertahan lama, Pengusaha bernama Burung Nuri terciduk KPK dan menyeret Tampan sebagai salah seorang pelaku.

Akhirnya kehidupanpun kembali lagi seperti sedia kala. Keluarga Tampan menjadi cemoohan orang banyak. Anaknya sering dibully di sekolah karena sang Bapak kerap muncul di berita TV dengan memakai rompi orange khas KPK.

Teman…..jika ingin dihormati orang lain, tidak mesti harus menjadi kaya. Perilaku yang memberikan manfaat bagi orang lain dan sesuai dengan norma kehidupan cukup untuk mendapatkan “respek”itu.

Kawan…..di akhir karirmu dan di akhir hidupmu, orang-orang bukan mengenang hartamu tetapi seberapa baik akhlakmu bagi kehidupan.

Karena itu jangan pernah meniru drama hidup tragedi Sang Koruptor..

Tepati Waktu Agar Tidak Rusak Susu Sebelanga

Menepati waktu terlihat seperti hal yang remeh temeh, namun sangat berbahaya jika diabaikan khususnya dalam sebuah komunitas, organisasi ataupun perkumpulan.

Setiap orang, tanpa kerkecuali, di dalam suatu perkumpulan hukumnya wajib menepati waktu yang telah disepakati.

Mengapa??? Karena jika ada satu orang saja, siapapun dia, posisi apapun dia, jika terlambat maka akan merusak organisasi itu dari dalam.

Coba bayangkan, kalau satu orang yang terlambat pastinya membuat yang lain kesal. Tentu merusak suasana bukan. Apalagi jika orangnya itu itu saja.

Bahkan, jika yang sering terlambat itu adalah si bos atau pimpinan dari suatu organisasi maka, meskipun kemungkinan memaklumi, para karyawan ataupun anak buah berfikir “palingan juga bos datang jam segini”. Dan pastinya membuat karyawan-karyawan tadi pun datang terlambat karena yakin si bos tiba tidak akan datang pada waktu yang ditentukan.

Apalagi kalau perkumpulan itu sifatnya non formal, jika ada anggota yang datang terlambat dan aturan ketepatan waktu tidak ditepati, maka yang lainnya akan mencoba untuk datang terlambat juga. Dengan pemikiran yang sama “palingan yang lain juga datang jam segini”.

Akhirnya waktu yang disepakati menjadi semacam dagelan saja. Makna “Jangan datang setelah jam sekian”tetapi berarti “Jangan datang sebelum jam sekian”

Kalau sudah seperti ini, yakinlah acara yang dirancang pasti berjalan di luar waktu yang disepakati.

Gara-gara satu orang terlambat, kacau jadinya.

Profesi Yang Tak Pernah Mati

Profesi prajurit,militer atau tentara akan selalu dibutuhkan. Pertahanan/ defence selalu menjadi insting dan naluri manusia dalam bertahan hidup. Entah dalam bentuk apa self-defence itu, tentunya reaksi pertama yang dilakukan oleh manusia saat mendapat tekanan dan ancaman adalah melakukan pembelaan diri. Berlaku juga dalam mekanisme suatu negara…

Teknologi Drone yang semakin maju apalagi dengan berkembangnya teknologi Artificial Intelijen tentu saja mengubah paradigma pertempuran. Banyak alat-alat tempur yg sudah unmaned, dikontrol melalui jaringan nirkabel jarak jauh. Dan menariknya tekhnologi itu bukan hanya dikuasai oleh blok barat saja, tetapi mulai diikuti oleh negara besar di Asia. Berarti mungkin suatu saat nanti skenario perang robot lawan robot atau bahkan smart robot vs manusia seperti dlm adegan film Terminator, tidak bisa dihindarkan.

Lantas, klo sudah demikian apa profesi prajurit tidak dibutuhkan lagi???Tentu saja tidak.

Profesi itu akan bertransformasi menyesuaikan  situasi. Saat artificial intelligence sudah sangat lazim diinstall pada alat tempur, maka dibutuhkan prajurit yang dapat mengefektifkan penggunaan sekumpulan “prajurit robot” tadi. Jangan sampai alat yang hebat itu menjadi kurang efektif daya tempurnya atau karena terlalu mengandalkan mode otomatis malah membahayakan pasukan sendiri. 

Contohnya : Balik lagi ke film Terminator, robot pintar yang diciptakan oleh manusia, naasnya malah membunuh manusia itu sendiri. Lantaran robot itu kemasukan virus, yang membuat program komputernya memerintahkan robot untuk menyerang manusia.

Bahkan, profesi militer akan menjadi semakin menantang.Karena negara2 besar berlomba lomba menguasai ruang angkasa. Untuk apa? Selain untuk ilmu pengetahuan demi kesejahteraan manusia, mereka ingin berkompetisi untuk menciptakan senjata yang bisa dipasang di luar bumi.

Lantas apakah prajurit harus dididik jadi ilmuwan yang bisa menciptakan satelit? Tentu tidak perlu, karena sudah sudah ada profesional lain yang menguasainya. Tugas prajurit adalah bagaimana menggunakan satelit sendiri untuk serangan dan bagaimana untuk menetralisir/menghancurkan satelit lawan untuk pertahanan.

Teringat ungkapan dari seorang pensiunan jenderal di Indian Army saat diadakan seminar sebelum wabah Covid-19 melanda yaitu tentang perang masa depan. ” Tugas ilmuwan untuk meluncurkan satelit tetapi tugas militer adalah menghancurkannya”

Jadi…., Profesi prajurit akan selalu ada. Dan kemampuannya akan terus menyesuaikan sebagai end user dari tekhnologi terkini.

Bahagianya Jadi Orang Pendek

Saya punya sepupu sebut saja Dian, umurnya dua tahun lebih muda. Sekitar tahun 200an, dia masih berumur sekitar 15an tahun. Suatu saat dia curhat kepada saya, dia sedih karena menurutnya tubuhnya tidak terlalu tinggi. Karena itu, dia tidak pernah baris di paling depan dan tidak terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera 17 Agustusan.

Padahal, Dian ini ingin sekali menjadi Paskibra. Dian semakin iri, tatkala temannya yang dipilih mewakilinya sekolahnya untuk menjadi Paskibra akhirnya berhasil menjadi anggota Paskibraka yang mengibarkan bendera di istana negara.

Saya sebagai sepupu akrabnya menasehatinya bahwa seharusnya dia tidak perlu sedih.

Menjadi orang tinggi itu sebenarnya sangat tidak mudah. Memang dia mudah dikenal karena tingginya, tetapi dia juga akan mudah ketahuan jika bolos upacara bendera. Orang tinggi mungkin terlihat keren dibanding orang pendek, namun biasanya orang tinggi itu agak susah mencari pakaian dan sepatu yang cocok bagi mereka.

Hal ini sama juga dengan orang yang selalu rangking satu. Sang juara ini belum tentu selalu Bahagia atas pencapaiannya itu. Terkadang bagi beberapa orang, prestasi itu menjadi beban. Bagi yang tidak bijak dan kuat mentalnya, anak ini akan menjadi stress dan frustasi ketika dia tidak menjadi juara. Atau bahkan bisa menyalahkan orang yang berhasil menyalip prestasinya.

Kejadian ini pernah saya dengar dari teman saya yang pada tahun 2000an sekolah di SMU Taruna Nusantara, sekolah yang waktu itu sangat keren karena banyak juara siswa teladan dari setiap provinsi yang berhasil diterima di sana.

Teman karib saya ini sebut saja Amir. Dia adalah juara umum bertahan di salah satu SMP negeri Payakumbuh. Namun apadaya Amir harus mengalami kejutan psikologis ketika dia tidak pernah menjadi juara kelas di SMA itu. Bahkan di awal bersekolah di Magelang itu, Amir sering merasa tertekan akibat nilai-nilainya yang nyaris sedikit di atas nilai minimum setiap kali ada ujian.

Untungnya setelah hampir setahun di sana si Amir bisa mengendalikan rasa ketidaknyamanan tersebut. Dia pada akhirnya menyadari bahwa bukan hanya dirinya sendiri merasakan, banyak temannya juga mengalami hal yang serupa. Karena tidak mungkin semua menjadi juara 1, lebih-lebih di sekolah yang inputnya dari siswa terbaik seluruh Indonesia.

Dan si Amir pun mulai menikmati menjadi siswa “biasa-biasa” saja.

Bagi saya, menjadi orang “biasa-biasa” saja itu banyak untungnya. Kita bisa bergaul dengan semua kalangan karena orang-orang yang demikian sangat banyak jumlahnya.

Saya juga tidak perlu terlalu jaim karena merasa saya bukan menjadi pusat perhatian. Tidak perlu terbebani untuk dilihat sebagai yang terbaik, yang tertinggi, atau yang terhebat.

Tidak perlu merasa malu sekali jika melakukan kesalahan kecil karena merasa belum tentu orang memperhatikan tindak tanduk kita setiap saat.

Maka, tidak perlu iri ketika melihat Gibran anak Presiden, ataupun Bobby Nasution mantu Presiden yang masih sangat muda yang berdasarkan hasil Quick Count berhasil mengungguli lawan politiknya dalam Pilkada.

Karena jika mereka sudah terpilih mereka akan menjadi sosok “tertinggi” dan “juara umum” tadi. Menjadi pusat perhatian yang setiap tingkah lakunya menjadi pembicaraan orang.

Photo by Ben Mack on Pexels.com

Jangan Terlalu Fanatik dengan Politik

Terkadang prihatin dengan kondisi sosial di Indonesia, terutama jika melihat dari komentar-komentar di media sosial. Ya, boleh dibilang ini akibat hiruk pikuk politik praktis di Indonesia.

Apalagi sejak kepulangan salah satu tokoh agama yang dikenal dengan aktifitasnya sangar dalam memerangi kemungkaran. Rakyat dibikin heboh, dengan komentar-komentar netizen yang pro maupun kontra. Pemberitaan di stasiun televisi berulang-ulang semakin menambah kecemasan bagi rakyat jelata, yang terkadang tidak tahu apa-apa.

Sering saya amati ada orang yang menggembar-gemborkan persatuan bangsa, tetapi di sisi lain dia menghujat, memprovokasi dan melontarkan perkataan kasar yang penuh penghinaan. Bagaimana bersatu jika kau hina diriku dengan kata-kata seperti itu???

Sebaiknya tidak perlu demikian, karena Politik itu hanyalah permainan, sandiwara dan siasat untuk meraih kekuasaan di suatu negara yang berhaluan demokrasi.

Banyak anak-anak milenial yang tentu saja secara tidak langsung dicekoki oleh agitasi-agitasi melalui kalimat-kalimat yang sarat akan unsur politis yang sebenarnya mereka juga tidak tahu kondisi nyata. Mereka hanya melihat dari tweet-an di media sosial, kelihatan seru dan kemudian langsung ditiru.

Apalagi ditambah adanya masa netizen bayaran, mirip dengan masa bayaran yang dibayar di saat demo.

Berkontribusi pada per-Politikan bukan suatu yang dosa, bahkan dianjurkan bagi anak muda. Namun harus diajarkan dengan cara yang benar. Pemuda yang berakhlak baik tentunya harus didorong untuk berpolitik karena jika tidak maka para penjahat dan koruptor yang berpolitiklah yang akan menjadi pemimpin daerah atau negara

Demokrasi yang Indonesia alami ini, semakin mengarah model negara-negara Barat lainnya. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, di sana sudah menjadi kebiasaan bagi partai Demokrat melawan pendukung partai Republik untuk saling mengkritisi. Saling mengungkit kesalahan tanpa memberikan solusi itu sudah jadi adat dan kebiasaan mereka. Penggunaan sindiran bahkan kalimat penghinaan menjadi tontonan sehari-hari di negara itu.

Bagi mereka, mungkin gaya politik seperti itu cocok bagi negara yang dibangun oleh peradaban eropa dan mewarisi budaya politik eropa. Dengan rakyat yang berasal dari berbagai ras, multi etnis, agama dan kepercayaan, mereka harus membangun suatu sistem yang sesuai dengan karakter manusia-manusia di sana.

Bagi orang Indonesia yang pernah ke Amerika Serikat, mungkin pernah merasakan perilaku sebagian besar warganya. Secara pribadi, saya melihat keterbukaan, professional dan rasa percaya diri yang tinggi menjadi ciri khas yang menonjol. Mereka sudah terbiasa dikritisi, bagi mereka seorang anak muda mengkritisi orang yang lebih tua itu sudah biasa.

Sedangkan di Indonesia, perpolitikan dibangun dengan cara yang berbeda. Jauh berbeda dengan negara-negara Barat sana.

Mengapa beda? Ya tentu saja dong. Manusianya beda, kulturnya beda, makanannya beda, iklimnya beda, alamnya beda.

Apa hubungannya dengan politik? Tentu saja ada. Meskipun kita mengadopsi gaya demokrasi trias politica yang kita impor dari Eropa, tetap saja yang menjalankan sistem tersebut adalah orang Indonesia sendiri.

Mayoritas orang Indonesia, dan beberapa orang Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Malaysia, Vietnam , Thailand sangat terkenal dengan sifat ramah tamah, bersahabat, sopan santun, menghargai yang lebih tua dan kekeluargaan tinggi.

Tutur Bahasa terkenal santun dan ramah kepada semua orang menjadi ciri khas yang sulit ditandingi oleh ras lain.

Lagi pula seperti yang disampaikan tadi, politik itu hanya sandiwara elit politik belaka. Contohnya pada saat Pilpres 2019 yang menghasilkan dua kutub yang berseberangan “Cebong -Kampret”, ternyata setelah terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo, saingannya Prabowo Subianto malah menjadi partnernya presiden, sebagai Menteri Pertahanan. Tetapi polarisasi cebong-kampret masih terasa sampai sekarang.

Tapi akibat hujat menghujat antar pendukung, masuk ke hati. Timbul dendam di sebagian orang sampai sekarang dan merusak pertemanan.

Dengan begitu demokrasi yang dijalankan tidak perlu meniru persis seperti orang-orang Amerika ataupun Eropa. Politik yang penuh penghujatan, penghinaan dan kata-kata pedas. Karena bagi kebanyakan orang Timur, meskipun yang disampaikan benar tetapi disampaikan dengan kata-kata kasar biasanya tidak akan diterima bagi yang mendengar. Setidaknya timbul rasa antipasti terhadap orang yang menghujat itu.

Anak-anak muda harus mengerti politik namun politik secara santun. Mengkritik orang yang tidak sealiran politik dengan kita boleh saja, tetapi hendaknya kritikan yang solutif dan tidak menyakiti perasaan apalagi membawa SARA.

Tetaplah berdemokrasi Pancasila secara santun karena kita orang Indonesia.

Seperti yang yang disampaikan Bung Karno “Kalau jadi hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang islam jangan jadi orang Arab, kalau kristen jangan jadi orang yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini

Once again, Covid-19 free

After four PCR tests, our family always tested negative for Covid-19. The checks are always carried out because our neighbors or office friends who have never had direct contact with us are exposed to Covid-19.

Before carrying out these four tests, I had a strong belief that our family was Covid-19 free. Because, apart from showing no symptoms, we used to wear masks when we met people outside the home.

But this time is different, the test I’m going to take makes me worry.

My daughter has a close friend, her name is Zahra. My daughter always invites Zahra to play at home. At home, we usually don’t wear masks.

Zahra is the daughter of my neighbor and also my colleague. Her father always looked healthy and also when we took Zahra to play at home, her father only 3 days ago did an examination with non-reactive Covid results. Previously, this family often did PCR tests and the results were always negative.

Even though he tested negative, Zahra’s father was suspicious, because it had been more than a week that the cough had not gone away, the throat was sore, the body felt weak, and he vomited.

I told Zahra’s father, I had coughs and a sore throat a few weeks ago and now it’s healed. I informed him that I was taking regular cough medicine to treat it. The cough was likely due to the bad air quality lately. Incidentally, at that time the Air Quality Index showed a level of 300-500 (very poor-hazardous).

There are symptoms that I have never felt like someone affected by Covid, namely that I have never lost my smell and my body is always fresh and strong.

Then, the father went back to the doctor. This time it was fully examined. Blood and X-Ray. A picture of the lungs was found which indicated that this man had pneumonia. The doctor who examined stated that there was a possibility that Zahra’s father had Covid-19.

Upon returning from the doctor, Zahra’s father took Zahra and her mother for a PCR examination. After one day the results came out.

Zahra’s Mom: non-reactive, Zahra: positive without symptoms.

One settlement was shocked. The one who worries most is of course my wife.

Three days ago my daughter played with Zahra. They played at my house, running through almost all the rooms. Not only they did not wear masks, but they may also eat and drink together.

This means that it was very likely that my family was exposed to the virus. Moreover, my daughter was coughing for a few days. The worry is growing.

Three days after we heard the information that Zahra was positive for Covid, I decided to check my family even though we didn’t feel any symptoms, except, for my daughter. She got a cough but it disappeared three days later after drinking the cough syrup that we always stock.

And, finally, the results came out too. Thank God again, we received the non-reactive Covid-19 certificate.

Our family remains healthy, as well as Zahra. The girl also did not develop any symptoms until two weeks later. We don’t allow the two girls to play together until it is totally safe. We do this to protect each other.

From the above and previous experiences. I suspect that the Covid-19 virus is still shrouded in many mysteries.

As a man who has no background in health or medicine. I frankly question the validity of the doctors’ laboratories, test kits, and analysis. How could the PCR tester not detect Covid-19 against Zahra’s symptomatic father. And why did the PCR tool even detect positive Zahra who was not showing symptoms?

Moreover, my family was all tested negative and showed no symptoms like those experienced by Covid-19 sufferers in general. Even though we intensely met Zahra, not only interacting without a mask but eating and drinking together, my family is still free from the virus.

However, instead of continuing to question that, there is something I believe to be true, namely “it’s better to be vigilant”

Because one thing that cannot be denied is that many people have died from this disease.

For this reason, I always adhere to the classic preventive parameters that are easy, cheap, and proven to be effective.

Wear a mask, keep your distance, and always maintain and increase immunity.

Baliho dan Manajerial Tentara

Sekarang sedang ramai-ramainya membahas HRS yang baru saja kembali dari Arab Saudi. Mulai dari kedatangannya yang melumpuhkan transportasi menuju Bandara Soekarno Hatta sampai dengan penurunan Baliho HRS yang dilakukan oleh TNI yang konon diperintahkan oleh Pangdam Jaya.

Banyak masyarakat yang bertanya-tanya apakah yang dilakukan Pangdam Jaya sudah mendapat perintah oleh Panglima TNI atau bahkan Presiden sebagai panglima tertinggi Angkatan Perang Indonesia atau tidak?

Kemudian, Juru Bicara dari Mabes TNI menjelaskan bahwa Panglima TNI tidak secara khusus memerintahkan pencopotan baliho tersebut, namun mendukung Pangdam atas isu tersebut. Dikatakan di salah satu berita jika Pangdam memiliki kewenangan di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya dan tidak perlu menunggu perintah Panglima TNI untuk melakukan tindakan tegas itu.

Mendengar dan membaca berita itu menggugah saya untuk mencari informasi mengenai model kepemimpinan di dunia militer dan ternyata memang konsep manajerial di militer sangat inspiratif.

Nah, di artikel ini bukan untuk membahas isu mengenai HRS ataupun Pangdam Jaya ya, tapi kita akan bahas mengenai ilmu leadership di kalangan militer atau tentara yang berlaku hampir di seluruh dunia. Ilmu ini juga dapat diterapkan dalam manajerial modern di dunia bisnis maupun birokrasi di pemerintahan.

Apa itu? Ini yang dinamakan Auftragstaktik: Decentralization in Military Command

Auftragstastik ini adalah teori mengenai gaya kepemimpinan dan manajerial Angkatan perang Prussia yang dikembangkan oleh Helmuth von Moltke the Elder, seorang jenderal Prussia yang banyak berpengalaman perang antar negara di Eropa pada tahun 1800an.

Sesuai dengan metode Auftragstaktik, maka seorang komandan bawahan memiliki kebebasan dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukannya. Komandan senior hanya akan memberikan Commanders’ intent atau pokok-pokok keinginan Komandan serta direktif atau arahan. Dalam direktif tersebut juga harus dijelaskan tentang tugas yang harus dilakukan dan batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan.

Tugas yang disampaikan juga tidak terlalu detail, hanya sebatas yang perlu dilakukan oleh Komandan bawahan. Mengapa demikian? Karena sudah menjadi pekerjaan komandan junior untuk mendetailkan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan berlaku begitu seterusnya sampai ke bawah. Inilah yang diistilahkan desentralisasi manajerial.

Dengan model seperti ini, komandan di pertempuran dapat mengambil keputusan langsung tanpa keraguan sedikitpun dan tanpa perlu menunggu perintah lagi dari Komandan yang lebih senior. Sehingga keputusan dapat dilaksanakan secara cepat dan sesuai realita di lapangan.

Konsep itu, tentu saja memberikan tantangan. Yaitu sang Komandan harus bisa merekrut, melatih dan memilih komandan di bawahnya. Sehingga komandan yakin perintah yang diberikan nanti dapat diterjemahkan dengan baik.

Model seperti ini juga hampir sama dengan istilah makro manajemen dan mikro manajemen. Seorang pimpinan cukup melakukan makro manajemen, dimana pimpinan ini hanya memerintahkan poin-poin yang bersifat umum dan selebihnya bawahannya melakukan improvisasi untuk keberhasilan pekerjaan itu. Sedangkan mikro manajemen dilakukan apabila sang pimpinan merasa perlu untuk memberikan instruksi kepada bawahan yang sangat detil agar tidak terjadi kesalahan.

Mikro manajemen tadi harus dilakukan manakala terdapat suatu perintah yang salah diartikan oleh pimpinan bawahan sehingga bisa mengakibatkan kegagalan suatu pekerjaan. Maka pimpinan yang lebih tinggi akan mengambil alih, mengoreksi dan mengarahkan satu persatu.

Gaya manajerial seperti ini masih diimplementasikan setidaknya oleh US Marine Corps karena model ini terbukti efektif digunakan oleh tentara di negara-negara maju di dalam berbagai operasi militer.

Konsep manajerial seperti itu sering diadopsi oleh dunia perkantoran dan bisnis. Dalam kehidupan perkantoran, saya sering menemukan seorang atasan yang merapkan model seperti ini setengah-setengah.

Kenapa setengah-setengah???, karena beberapa atasan hanya tahu beres, dia hanya memberikan “ pokoknya kamu atur” tanpa menjalankan langkah lainnya. Akhirnya ketika bawahan melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, keluar perkataan “ tidak becus kamu”.

Dan dengan gampangnya si atasan tadi bilang “ itu kan bukan perintah saya”, tatkala dimintai pertanggung jawaban pejabat yang lebih tinggi.

Atau terkadang di dunia usaha juga, ketika seorang direktur atau bos main pecat karena bawahan tidak bisa mencapai target. Biasanya si Bos tidak melakukan apa yang dinamakan makro manajemen dan mikro manajemen. Dia barangkali tidak melakukan arahan yang cukup dan control yang kuat sehingga main pecat dan lama-lama orang tidak mau bekerja lagi dengan si Bos model ini.

Maka daripada itu, saya coba rangkum Teknik manajerial dengan menggunakan konsep Jadul dicampur dengan bumbu  Auftragstastik  tadi yaitu POAC, Planning, Organizing, Actuating dan Controlling.

Planning.

1.            Buat rencana yang masuk akal dan memiliki target yang jelas.

2.            Rencana yang dibuat setidaknya terdiri dari rencana jangka Panjang dan jangka pendek.

3.            Konsep yang dibuat hendaknya mudah dimengerti dan dapat divisualisasikan atau digambarkan.

4.            Rencana itu juga harus mengandung indikator-indikator keberhasilan sehingga pekerjaan dapat terukur.

5.            Libatkan orang-orang yang ahli di bidangnya dalam penyusunan ini dan masukkan input saran dari bawahan jika pekerjaan yang sama pernah dilakukan.

6.            Memuat pula konsep Organizing, Actuating and Controlling.

Organizing.

1.            Pilihlah the right man on the right place. Serta pilihlah seseorang yang anda yakin dapat membuat anda nyaman dalam menyelesaikan pekerjaan.

2.            Jika memang diperlukan lakukan kaderisasi.

3.            Bila akan melibatkan orang di luar tim maka lakukan penjajakan dan jaga hubungan dengan baik.

Actuating.

1.            Sampaikan direktif, perintah atau petunjuk dengan jelas.

2.            Berikan Batasan-batasan yang jelas yang tidak boleh dilakukan oleh anak buah.

3.            Gunakan Bahasa yang singkat dan tidak bertele-tele.

4.            Berikan kesempatan kepada anak buah untuk bertanya dan memberi masukan, namun jangan biarkan mereka melenceng dari konsep pekerjaan. Dan anda adalah pimpinan jadi putuskan.

5.            Biarkan anak buah berimprovisasi sesuai arahan dan batasan tadi.

Controlling.

1.            Periksa hasil pekerjaan apakah sudah sesuai dengan kemajuan yang diharapkan secara berkala.

Karena memimpin itu merupakan ilmu dan seni yang sangat berharga untuk kehidupan bermasyarakat, berbisnis dan berorganisasi.

2.            Jika belum sesuai maka cari pokok permasalahannya apa, bisa jadi terkait SDM, sistem pekerjaan, faktor alam dan lain sebagainya.

3.            Segera evaluasi jika sudah ditemukan pokok masalah.

4.            Berikan motivasi berupa reward bagi yang berprestasi dan berikan punishment yang proporsional dan manusiawi bagi yang gagal.

Baiklah teman-teman, sekian ulasan mengenai manajerial yang saya gabungkan antara leadership ala militer dan dunia usaha/perkantoran. Sekali lagi, ilmu ini bukan hanya dibaca dan dipelajari tetapi juga dipraktekkan agar rekan-rekan berpengalaman dalam memimpin.

 

Dulunya Modern, Kuno (baca: tradisional) Sekarang

Judul apa ini??? 
Maksudnya itu begini….


Segala sesuatu yang dibilang tradisional, seperti tari tradisional, baju tradisional, budaya tradisional, dst itu sebenarnya disebut modern atau kekinian pada masanya


Tradisional dan modern hanyalah persepsi waktu.


Sebagai contoh, sendra tari Ramayana yang sering dipentaskan di kompleks candi Prambanan sebenarnya adalah “tarian fusion” campuran dari kebudayaan Hindu di India. Ramayana sejatinya berasal dari India. Lihat saja background lokasi ceritanya, perjalanan Rama Sita dari kerajaan Ayodhya sampai berjalan menuju kerajaan Rahwana di Sri Lanka.
Pada masa penduduk Jawa masih menganut ajaran Hindu, tarian atau pertunjukan ini tercipta karena ada perpaduan budaya India dan Jawa. Saat itu kalau ada yang mempertontonkan acara ini dibilang keren dan kekinian. Namun pada masa sekarang ini disebut tradisional.


Sementara K’Pop Dance yang menjadi budaya Korea saat ini sangat jauh dari gerakan tarian yang lazim dipertunjukkan oleh Korea beberapa dekade lalu. Tarian ini malah lebih ke Barat-Baratan. 
Yang menjadi ciri khas K’ Pop itu yaitu lagunya dinyanyikan dalam bahasa Korea, dengan diiringi house musik, pop maupun disco dan pasti dibawakan oleh orang Korea.


Dan saat ini, silakan ditanya apa yang menjadi ciri khas budaya Korea Selatan, ya salah satunya K’Pop. Dan mungkin suatu saat nanti, model tarian ini akan menjadi tradisional juga.
Maka jangan heran jika suatu saat nanti, yang namanya dangdut koplo khas Pantura bisa jadi akan menjadi ciri khas Indonesia. 

Oleh karena itu, ada baiknya memang seniman Indonesia berlomba lomba menciptakan suatu seni yang baru dan tetap dibumbui dengan budaya ciri khas Indonesia saat ini. Lebih bagus lagi jika seni tersebut dapat diterima dengan mudah secara global terutama oleh anak-anak muda…
Ayo berkarya….

Belajar Bahasa Inggris Dengan Mudah dan Tidak Bikin Capek (2)

Baiklah kita lanjutkan…

Menulis, menurut saya adalah level tertinggi dari kemampuan Bahasa. Untuk penulisan informal seperti kirim WA ke teman itu relatif mudah, karena susunan kalimat dan pilihan kata tentu saja hampir sama dengan kalimat percakapan.

Namun menjadi hal yang cukup menantang jika dihadapkan dengan bentuk tulisan untuk tujuan akademik dan surat menyurat resmi.

Penulisan Bahasa Inggris untuk tujuan akademik biasanya diperlukan saat kita ingin mendaftar beasiswa ke perguruan tinggi di luar negeri. Maka biasanya akan ada test writing, yang tentu saja harus dipelajari teknik maupun formatnya.

Saat ini sudah banyak situs-situs yang menjelaskan tentang academic writing. Namun menurut saya memang perlu ada orang yang melakukan bimbingan secara langsung mengenai ini.

Berikutnya, mengenai surat menyurat resmi. Bahasa yang digunakan untuk surat menyurat resmi juga berbeda-beda.

Kalian bisa mencoba dengan berkorespondensi dengan situs-situs apa saja yang menyediakan kontak e-mail. Nanti akan ada e-mail balasannya. Nah, dari balasan e-mail tersebut dapat dicontoh bagaimana mengirim surat dalam Bahasa Inggris dengan gaya bahasa korespondensi.

Untuk meningkatkan kemampuan menulis ini, salah satu jurus yang paling jitu adalah banyak membaca tulisan-tulisan essay, jurnal dan berita-berita internasional. Kalian akan menemukan keberanekaragaman gaya tulisan dan pemilihan kata.

Tentu saja, selanjutnya giliran kalianlah yang mencoba untuk menulis.

Setelah itu sebaiknya cari partner yang bisa mengecek tulisan anda. Bagi pemula biasanya tulisan Bahasa Inggrisnya terlihat benar namun terkadang pemilihan kata-katanya kurang tepat. Atau dalam istilah saya “Bahasa Indonesia yang diInggriskan”.

Lebih beruntung lagi jika teman-teman sekalian punya kesempatan untuk belajar di luar negeri, gunakan kesempatan ini untuk mengecek sejauh mana tulisan anda dimengerti oleh orang asing.

Ukurannya adalah jika orang tersebut mengerti makna yang anda sampaikan berarti tulisan anda sudah benar.

Sekali lagi, semakin kalian banyak membaca maka akan mempengaruhi tulisan kalian.

Semakin banyak menulis maka semakin terlatih kemampuan kalian untuk menterjemahkan ide menjadi sebuah tulisan.

Resep Ketiga “BIASAKAN MENYUSUN KALIMAT DENGAN BAIK”

Kebetulan saya punya teman. Dia dulu menempuh kuliah di salah satu universitas negeri di Semarang dengan jurusan sastra Perancis. Dia bilang “prinsip utama dalam berkomunikasi adalah biasakan Menyusun kalimat dengan baik, bahakan dalam Bahasa sendiri”

Kadangkala, tanpa kita sadari, dalam berbicara menggunakan Bahasa Indonesia saja, terkadang susunan kalimat yang dilontarkan sangat amburadul.

Contohnya “ Sudah makan kamunya?”, “Sedang mbersihin kamar mandi akunya tadi”,

Nah, hal ini biasanya tanpa sadar akan mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk menggunakan gaya yang sama dalam menyusun kalimat dalam Bahasa Inggris.

Sebagai orang yang tumbuh dalam lingkungan non-English, sebaiknya kita biasakan menyusun kalimat secara teratur terlebih dahulu.

Kalimat dalam Bahasa Inggris selalu dimulai dengan urutan Subyek Verb , jangan dibolik-balik. Anda bayangkan bagaimana perasaan orang Bule ketika berbicara dengan teman-teman jika dibolak balik.

Pelafalan kita saja kadang tidak dimengerti oleh si Bule apalagi ditambah dengan susunan kalimat yang amburadul.

Mungkin ini kiat terakhir, “ FOKUS PADA PELAFALAN “PRONUNCIATION”.

Pengalaman saya pelafalan itu sangat penting. Lebih baik bicara irit dengan lafal yang jelas dari pada bicara banyak tetapi lafalnya kurang mantap.

Pelafalan ini menjadi sangat penting. Tirulah persis cara melafalkan kata demi kata dalam Bahasa Inggris. Persis bunyinya.

Keuntungan dari menguasai pelafalan ini yaitu selain kata-kata anda mudah dimengerti maka kalian juga akan terlihat mahir dalam berbahasa.

Dengan pelafalan yang baik pula, teman-teman akan sangat mudah berkomunikasi dengan orang asing. Perbanyan menonton film berbahasa Inggris, maka akan semakin meresap pula aksen Bahasa Inggris yang akan anda gunakan.

Itu dia tadi resep belajar Bahasa Inggris berdasarkan pengalaman saya. Semoga bisa membantu teman-teman sekalian yang ingin memperlancar Bahasa Inggris baik secara lisan maupun tulisan.

Belajar Bahasa Inggris Dengan Mudah dan Tidak Bikin Capek

Belasan tahun belajar Bahasa Inggris mulai dari SD sampai Kuliah bahkan bekerja tapi tidak pintar-pintar.  Sudah berbagai macam kursus Bahasa Inggris diikuti tetapi tidak ada kemajuan. Apanya yang salah ya???

Banyak Tempat Kursus Bahasa Inggris yang menjanjikan dapat menjadikan seseorang pintar Bahasa Inggris dalam waktu yang singkat. Namun percayalah, belajar Bahasa asing itu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Tetapi belajar Bahasa Inggris itu juga tidak sulit dan bisa dilakukan sambil santai.

Baiklah, saya akan bagi pengalaman saya belajar Bahasa Inggris yang mudah dan tidak bikin capek.

Saya termasuk orang yang dikategorikan di paragraph pertama tadi, belajar Bahasa Inggris dari s.d. sampai bekerja tapi tidak bisa-bisa. Bahasa Inggris saya saat baru saja menjadi karyawan di sebuah instansi pemerintah di tahun 2006 itu dapat digolongkan payah.

Percakapan dalam Bahasa Inggris masih sangat tidak lancar, masih banyak bengongnya karena harus memikirkan “Bahasa inggrisnya kata ini apa ya”. Itu baru percakapan, belum masalah tulis menulis. Sudah pasti kacau balau.

Beberapa kali saya ikut kursus Bahasa Inggris di SD, SMP, SMA bahkan kuliah, tapi yaaaaa karena saya juga sering bolos jadinya kemampuan saya selalu maju mundur.

Ketika saya melihat teman-teman saya yang bisa berbahasa Inggris mendapatkan promosi kair lebih bagus, akhirnya saya sadar bahwa memiliki kemampuan itu sangat menunjang pekerjaan. Mereka bisa kuliah di luar negeri, ikut meeting di negara orang bahkan mendapatkan posisi pekerjaan yang cukup strategis.

Kebetulan instansi tempat saya bekerja menyediakan kursus intensif Bahasa Inggris bagi karyawannya yang ingin meningkatkan mutu.

Singkat cerita, saya mendaftar di kursus itu, dan belajar selama 3 bulan.

RESEPNYA ADALAH…….

Pelajaran pertama yang saya dapatkan. JANGAN MALU.

Guru Bahasa saya bilang bahwa Bahasa Inggris itu bukan bahasa asli kita, sehingga wajar jika kita banyak tidak fahamnya.

Buang jauh-jauh perasaan bahwa orang yang kita ajak bicara lebih mengerti dari pada kita sendiri, hal ini berlaku kepada lawan bicara orang Indonesia. Apalagi jika dia tidak pernah tinggal di negara berbahasa Inggris dalam jangka waktu lama.

Pesan yang disampaikan oleh Guru saya benar adanya. Sebagai contoh saya sendiri yang pada akhirnya punya kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat selama setahun. Ternyata setelah satu tahun di AS dan setiap hari berbicara dengan orang bule, tetap saja saya sering tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.

Hal ini wajar karena kosakata dalam Bahasa Inggris itu sangat banyak, belum ditambah aksen, serta idiom. Tidak ada yang lebih tau makna Bahasa itu sendiri selain sang penutur.

Pelajaran kedua, RAJIN MENDENGAR, RAJIN MEMBACA, RAJIN MENULIS DAN RAJIN BERBICARA.

Belajar Bahasa itu sama dengan kita belajar nyetir mobil. Semakin sering diasah maka semakin lincah. Sebelum era internet 4G, saya sering mendownload siaran-siaran dalam Bahasa Inggris untuk kemudian didengarkan berulang-ulang secara offline. Tapi kini dengan kecepatan internet yang tinggi membuat kita dapat mendengarkan secara live radio online, bahkan menonton youtube.

Tidak masalah jika diawal-awal kita tidak terlalu mengerti materi listening atau percakapan. Ini merupakan hal yang lazim karena memori dan organ telinga kita butuh penyesuaian. Kelak berangsur-angsur dengan sendirinya kita akan mulai mengerti apa yang dibicarakan.

Kebiasaan mendengar/listening juga harus dibarengi dengan kebiasaan membaca pula. Lagi-lagi dengan layanan internet, kita bisa dengan mudah mendapatkan materi bacaan Bahasa Inggris. Namun perlu diingat bahwa sebaiknya dalam membaca artikel berbahasa Inggris, sebaiknya menggunakan portal yang dikelola oleh broadcaster asing.

Menurut pengalaman saya bagi pemula sebaiknya membaca berita-berita dalam Bahasa Inggris yang kosakatanya familiar bagi orang Indonesia. Sebagai contoh https://edition.cnn.com/ dan https://www.aljazeera.com/ karena menurut saya pribadi vocabularies yang ditulis memang sangat akrab dan penyusunan kalimatnya sederhana dan mudah dimengerti. Sementara di beberapa situs lainnya gaya Bahasa dan kosakata yang digunakan terasa agak rumit.

Untuk mempelajari kata kerja (verb) memang sangat dianjurkan mengikuti News tetapi jika ingin memperbanyak penyerapan kata benda (noun) atau sifat (adjektif) sebaiknya membaca Novel berbahasa Inggris. Karena biasanya dalam novel kaya akan deskripsi baik sifat maupun benda.

Selanjutnya, adalah berbicara. Cara mengasah kemampuan bicara adalah dengan cara berkomunikasi verbal langsung dengan native speaker atau orang yang memang dari sononya berbahasa Inggris.

Perlu diingat, Bahasa verbal itu sangat berbeda dengan Bahasa tulisan. Dalam pembicaraan, bahkan seorang native speaker tidak terlalu memperhatikan apa yang kita sebut dengan “grammar”. Sama hal nya saat kita berbicara dengan teman dalam Bahasa Indonesia. Adakah yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan susunan yang baik dan benar???

“Pergi kemana?” lebih sering digunakan dalam percakapan dari pada “Anda akan pergi kemana?”. Ya seperti itulah Bahasa.

Justru, cara yang terbaik dalam berbicara adalah meniru persis Native Speaker baik itu susunan kata, logat maupun pelafalannya.

Sebagai contoh di AS orang lebih sering menyapa dengan “Hii, Whats up?” ketimbang “How are you?”.

Permasalahannya saat ini, kemana mencari native speaker??? Banyak caranya, pernah ingat viral seorang kopral TNI yang bisa berbicara berbagai macam Bahasa asing?? Ya dia mencari teman melalui sosial media, kemudian sering diajak komunikasi via WA. Zaman sekarang apa yang tidak bisa??? Semua bisa dilakukan asal ada kemauan, dan tadi JANGAN MALU.

Naaah, terakhir ini agak sulit. Yaitu melatih kemampuan menulis…..

Baiklah untuk yang sulit kali ini, kita bahas di lain waktu ya…..

Bersambung……