Cinta Damai, Tetapi Lebih Cinta Kemerdekaan

Sejarah membuktikan jika pendudukan bangsa asing selalu membawa petaka bagi bangsa pribumi. Invasi bangsa Eropa ke berbagai wilayah Asia sebagai contoh, entah itu dengan kedok perdagangan ataupun bantuan militer selalu berakhir tragis bagi penduduk asli.

Baru saja kita melihat tragedi kemanusian, penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, yang hanya menimbulkan kekacauan bukan hanya untuk penduduk Afghanistan saja tetapi juga negara lain, terutama yang memiliki kepentingan di sana.

Sejak tahun 2001,setelah tragedy 9/11, pasukan Amerika Serikat menduduki Afghanistan,melatih pasukan lokal untuk memerangi Taliban. Pada awal kedatangannya AS menginfiltrasi Afghanistan atas nama War of Terror, dengan alasan menggulingkan Al Qaeda, yang tumbuh subur di Afghanistan. AS dan sekutu berhasil menggulingkan pemerintah Taliban yang dituduh membiarkan dan mendukung Al Qaeda.

Penggulingan ini tentu saja memberikan kabar gembira bagi penduduk Afghanistan yang kontra terhadap Taliban yang konon pada masa kekuasaannya banyak melakukan kekerasan dan pelangggaran HAM serta sangat membatasi emansipasi Wanita.

Taliban sebagian besar beranggotakan warga negara Afghanistan sedangkan lawan politik dan masyarakat yang dihukumnya juga orang Afghanistan.

Selanjutnya, AS kebablasan.  Eksistensi pasukan AS dan sekutunya di Afghanistan berlangsung kurang lebih 20 tahun lamanya.

Dalam kurun waktu yang lama itu, dengan bantuan AS yang melatih dan mendanai perekrutan dan pelatihan tentara lokal, pemerintahan Afghanistan seharusnya sudah memiliki pasukan militer yang kuat. Tetapi yang terjadi adalah kekalahan yang cepat dan memalukan.

Pasukan Taliban hanya dalam hitungan minggu mampu menggulingkan pemerintah Ashraf Ghani dan memasuki ibu kota Kabul tepat pada tanggal 15 Agustus 2021, dua hari sebelum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Segera setelah Kabul berhasil diduduki oleh Taliban, terjadi kepanikan, ribuan bahkan mungkin ratusan ribu penduduk Afghanistan berbondong-bondong mencoba mengungsi ke luar negeri. Dan terjadi kekhawatiran bahwa pemerintahan Taliban akan mengeksekusi rakyat Afghanistan terutama yang selama ini menjadi kaki tangan pemerintah boneka AS.

Dari penggalan kejadian di Afghanistan itu, ada pelajaran yang dapat diambil.

Yaitu, bangsa asing tidak akan pernah tulus untuk membantu bangsa pribumi

Mengambil contoh dari invasi AS di Vietnam, Irak, dan Aghanistan ini pada akhirnya hanya menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat pribumi. Ketika ditinggal oleh AS, yang terjadi hanyalah perang saudara dan kekacauan.

Justru bangsa pribumi itulah yang harus menyelesaikan kekacauan yang ditimbulkan oleh bangsa asing itu. Contoh yang gamblang, Vietnam menjadi stabil sampai dengan saat ini karena pemimpin Vietnam yang melobi dan mendamaikan pihak-pihak internal yang bertikai.

Irak sejak jatuhnya pemerintah Saddam Hussein, menjadi kacau dan pertumpahan darah terjadi dimana-mana. Bahkan beberapa kota di Irak jatuh ke tangan ISIS,yang menjadi tempat para ekstrimis Islam dunia berkumpul.

Bangsa asing hanya datang untuk tujuan negaranya semata tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi bagi penduduk pribumi.

Indonesia juga mengalami hal yang serupa sebelum kemerdekaan. Bangsa Belanda dapat bercokol di nusantara dan kemudian mengkolonisasi, pada mulanya akibat symbiosis mutualisme dari VOC dan penguasa setempat.

Saat itu sering terjadi konflik internal kerajaan antar bangsawan. Kelompok yang inferior bersekutu dengan VOC yang memiliki persenjataan dan perlengkapan lebih modern untuk memberangus lawan politiknya yang sudah barang tentu saudara sebangsa sendiri.

Yang terjadi setelah itu,Belanda bercokol di Indonesia konon selama 350 tahun lamanya.

Begitu pula Jepang. Dengan jargon saudara tua Asia, Jepang seolah-olah akan membantu Indonesia, tetapi yang terjadi adalah eksploitasi SDM, SDA dan bahkan perempuan-perempuan Indonesia dijadikan pemuas nafsu bangsa Nipon itu. Bangsa asing hanyalah mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Itu saja.

Dengan sifat bangsa asing yang hanya mementingkan dirinya sendiri seperti itu, maka ke depan, rakyat Indonesia tentu tidak boleh lagi meminta bantuan asing untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar anak bangsa.

Permasalahan yang terjadi antara anak bangsa ibarat kakak beradik yang bertengkar karena memperebutkan sesuatu, maka yang bisa menyelesaikannya hanyalah internal keluarga itu. Karena kelak bangsa asing akan meminta kompensasi atas bantuan yang diberikan.

Jangan sampai kemerdekaan di bidang ekonomi, politik, tekhnologi, pangan, dan lain sebagainya diserahkan kepada bangsa asing sebagai bentuk kompensasi itu.

 “Lebih baik Mati Berkalang Tanah daripada Hidup dalam Penjajahan”

BTS Meal dan Kekuatan Budaya

By Andrea Y.A

Indonesia kembali heboh dengan budaya Korea Selatan. Apa itu ? BTS Meal yang dijual di Mc Donald di seputaran kota Jakarta.

Di Jakarta khususnya, terjadi antrian Panjang dari ojek online untuk mengantri pesanan BTS Meal yang dipesan oleh konsumen. Mengapa begitu heboh? Silakan tanya sendiri kepada yang memesan.

Menurut saya ada beberapa kemungkinan sehingga banyak orang memesan BTS Meal ini, yang pertama, penggemar boyband Korea yang penasaran ingin mengoleksi segala macam berbau BTS, kedua; provokasi dari antek-antek tim marketing dari si penjual agar barang dagangannya terlihat heboh dan ketiga; orang-orang yang sekedar ikut-ikutan ingin tahu BTS Meal yang sedang ngetrend.

Padahal di negara lain, BTS Meal belum tentu viral, contohnya di India. Selain memang budaya Korea di India tidak populer, juga karena rasa yang disajikan jauh berbeda dari selera masyarakt India, yang semuanya serba Masala (bumbu rempah). Malah sebaliknya beberapa menu KFC maupun McD dimodifikasi agar mendekati lidah lokal. Contohnya antara lain, Ayam goreng KFC dengan nasi biryani, minuman soda plus masala, dan ayam tandoori.

Betapa hebatnya budaya Korea menginvasi Indonesia. Budaya K-Pop dan Korean Movie memiliki penggemar fanatik yang cukup banyak di Indonesia.

Bukan suatu masalah jika budaya asing masuk ke Indonesia, selama itu mengandung nilai-nilai positif. Seperti Jepang yang terkenal dengan kedisiplinan, kerja keras dan kebersihannya, patut ditiru dan juga Amerika Serikat yang tepat waktu. Lagi pula, sedari dulu bangsa Indonesia selalu terpapar oleh budaya-budaya asing, entah itu makanan, pakaian, tarian, bahkan tulisan.

Sebagai contoh, pada tiga generasi lampau, orang-orang melayu di Sumatera menggunakan tulisan Arab berbahasa Melayu dalam berkorespondensi. Makanan khas Palembang, diyakini merupakan perpaduan antara budaya Palembang asli dengan budaya Tiongkok yang menghasilkan makanan dengan nama-nama unik seperti Pem-Pek, Tekwan, Laksan, Burgo, dan lain-lain. Bahkan jika dilihat dan dirasakan makanan kari-karian seperti di daerah Sumatera Barat maupun Aceh hampir menyerupai makanan di daerah Asia Selatan seperti India, Pakistan,Bangladesh maupun Sri Lanka meskipun tentu saja rasanya berbeda.

Asimilasi di atas adalah konsekuensi dari interaksi manusia. Bahkan di dalam negeri sendiri asimilasi budaya antar daerah sangat terasa. Mungkin banyak yang tidak tahu jika saat ini, di Manokwari, Papua Barat, oleh-oleh khas yang berupa abon Roti Abon Gulung itu bukan dibuat oleh penduduk asli Papua. Rotinya tebal, abonnya banyak dan rasanya kaya, ditambah dengan packing yang rapi dan mudah dibawa membuat makanan khas ini mudah dikenal.

Maklum saja, posisi Indonesia yang strategis sebagai tempat pelintasan kapal-kapal dagang dari dunia Timur menuju dunia Barat, begitu sebaliknya. Selain itu Indonesia juga menjadi tempat tujuan pencarian rempah-rempah yang memberikan sumbangan besar akan kenikmatan kuliner di seluruh dunia. Sehingga banyak bangsa asing yang berinteraksi dengan nenek moyang kita dulu.

Yang menjadi masalah adalah, jika kita orang Indonesia terlalu mengagung-agungkan secara berlebihan budaya asing tersebut. Sebagai contoh, kita memandang rendah orang yang makan di Warteg dan memandang keren bagi yang nongkrong di Burger King. Atau menganggap makan keju lebih modern daripada makan tempe.

Apalagi, jika menganggap seluruh yang dilakukan oleh negara yang menjadi idola dianggap benar, atau menganggap kultur Indonesia norak, kampungan dan ketinggalan zaman, ini yang bahaya!!! Jika sampai pada level ini, maka anda sudah terjajah oleh budaya asing.

Pada dasarnya produk luar negeri itu menjadi “terlihat” lebih keren karena budaya itu baru dan menarik, sehingga menimbulkan rasa penasaran dan ketertarikan kita yang belum pernah merasakannya. Padahal sebaliknya, bagi warga asing, banyak Budaya Indonesia yang tidak kalah mempesona, contohnya batik yang sudah banyak dipakai orang bahkan sampai di Afrika. Kemudian, Indomie, mie instan yang sudah merambah sampai ke Afrika, India, ataupun Arab Saudi bahkan sampai ke Serbia. Pencak Silat menjadi lebih mendunia setelah film The Raid ditayangkan di manca negara.

Bagi orang Korea, tentu saja merupakan suatu keuntungan bagi mereka jika pesona BTS berhasil membuat anak-anak muda Indonesia tergila-gila dan histeris. Karena, ini mengandung arti bahwa karya mereka diakui oleh negara lain. Bagi semua orang, tentu akan merasa senang jika karya dan hasil pemikiran mereka dinikmati, diakui dan dihormati oleh orang lain, bukan???

Maka daripada itu, rakyat Indonesia harus dapat membuat diri sendiri bangga, yaitu dengan cara berkarya dan berbudaya. Ciptakanlah karya-karya yang orisinil dari ide sendiri, kemudian perkenalkanlah kepada dunia melalui media sosial. Saling mendukung karya anak negeri dengan menggunakan produk-produk yang dihasilkan.

Jangan bereaksi terlalu berlebihan jika ada negara lain yang mengklaim budaya milik Indonesia. Toh, ini sama artinya mereka mengakui budaya Indonesia itu sebagai kreasi yang luar biasa dan patut dibanggakan.

Semoga saja, dengan produktifitas , olah fikir dan kreativitas seluruh rakyat Indonesia, suatu saat penduduk Seoul akan mengantri membeli es cendol dengan merek “Manis Manja Grup (MMG) sebagai balasan “serangan” BTS ini.

Jangan Samakan Alkohol Dengan Agama

By; Saladin Usman

Istilah Mabuk Agama atau mabuk Ayat kembali menghangat ketika pemerintah mengeluarkan Perpres Nomor 10 tahun 2021 tentang bidang usaha penanaman modal dengan salah satu lampiran yang mengatur investasi industri minuman keras.

Komentar dari pendukung investasi minuman beralkohol yang sangat tidak patut, dan dipampangkan ke media sosialnya, salah satunya seperti ini “lebih berbahaya mabuk agama daripada mabuk alkohol”.

Sungguh pendapat yang tidak bijak dan cenderung melecehkan agama.

Kata “mabuk” menurut https://kbbi.web.id , bermakna merasa pening atau hilang kesadaran (karena terlalu banyak minum minuman keras, makan gadung, dan sebagainya); 2 berbuat di luar kesadaran; lupa diri:; 3 ki sangat gemar (suka; 4 ki tergila-gila; sangat berahi.

Berdasarkan makna di atas , maka makna yang paling pas untuk mabuk agama artinya sangat gemar akan agama. Apa ini bermakna konotatif???

Orang Indonesia menurut Pew Research Center menyatakan bahwa 96 % orang Indonesia percaya kepada Tuhan dan memiliki nilai-nilai baik.

Bukankah seluruh agama di Indonesia, seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Kejawen dan kepercayaan lainnya semua mengajarkan hal-hal yang baik-baik?

Maka jika ada orang yang dikatakan sebagai mabuk agama, seharusnya bermakna positif.

Namun oleh sebagian kecil orang, mabuk agama tadi dikonotasikan negatif.

Sewaktu ideologi komunis masih berkibar istilah agama itu candu sangat terkenal. Bahkan Partai Komunis Indonesia menjadikan para kyai dan pemuka agama sebagai musuh ideologi ini. PKI memberikan stigma kepada Kyai, Haji dan Guru Ngaji sebagai tiga setan karena dianggap menghalangi pengaruh politik PKI di desa-desa.

Sekarang ini, mungkin yang dimaksud dengan mabuk agama adalah diperuntukkan bagi orang-orang yang membenarkan tingkah laku, pandangan politik ataupun hasratnya dengan membawa-bawa ajaran agama yang diyakininya.

Atau mempersalahkan suatu kondisi masyarakat /kebijakan pemerintah dengan alasan bertentangan dengan aturan suatu agama.

Jika arti ini yang dimaksud, tentunya tidak pantas menyandingkan agama dengan miras.

Agama menjadi hal yang sakral, sementara miras dianggap oleh rakyat Indonesia yang sebagian besar umat Muslim sebagai sesuatu yang diharamkan.

Tentu saja, melegalisasi suatu kejahatan seperti terorisme dengan dalil agama merupakan suatu yang tidak dapat dibenarkan, namun menyandingkan jargon mabuk agama dengan mabuk miras sungguh sesuatu yang tidak layak dan merendahkan.

Photo by Oleg Magni on Pexels.com

Tidak Perlu Korupsi Untuk Kaya

Kenapa?????

Terkisahlah seorang laki-laki, anggap saja namanya Tampan.

Si Tampan ini ingin menjadi kaya agar dihormati orang yang mengenalnya. Selama ini laki-laki ini hidup sederhana dan sedikit di atas garis miskin.Dia seorang abdi negara yang berpangkat rendah dan bergaji “cukup. Cukup untuk makan sehari-hari, ngontrak rumah, dan uang tabungan yang bisa disisihkan untuk keperluan darurat. Seringkali ia disindir dan diremehkan oleh orang yang mengenalnya.

Apapun dilakukannya untuk menggapai mimpi “menjadi orang yang dihormati”. “.

Seiring waktu, akhirnya si Tampan ini menemukan celah korupsi, yang pada awalnya hanya sekedar mengambil selisih uang kantor ribuan sampai dengan menerima suap dari pengusaha yang berurusan dengan perizinan di kantornya.

Si Tampan pun menjadi kaya raya, anak dan istrinya pun senang. Rumah dan mobil mewah pun dimilikinya. Sekilas, beberapa tetangga yang tidak terlalu mengerti pekerjaan tampan menaruh respek kepada keluarga ini.

Puja-puji tetangga kanan dan kiri serta teman-teman si Tampan pun berdatangan, apalagi Tampan selalu rajin berbagai rezeki dan mengadakan kenduri.

Namun itu tidak bertahan lama, Pengusaha bernama Burung Nuri terciduk KPK dan menyeret Tampan sebagai salah seorang pelaku.

Akhirnya kehidupanpun kembali lagi seperti sedia kala. Keluarga Tampan menjadi cemoohan orang banyak. Anaknya sering dibully di sekolah karena sang Bapak kerap muncul di berita TV dengan memakai rompi orange khas KPK.

Teman…..jika ingin dihormati orang lain, tidak mesti harus menjadi kaya. Perilaku yang memberikan manfaat bagi orang lain dan sesuai dengan norma kehidupan cukup untuk mendapatkan “respek”itu.

Kawan…..di akhir karirmu dan di akhir hidupmu, orang-orang bukan mengenang hartamu tetapi seberapa baik akhlakmu bagi kehidupan.

Karena itu jangan pernah meniru drama hidup tragedi Sang Koruptor..

Bahagianya Jadi Orang Pendek

Saya punya sepupu sebut saja Dian, umurnya dua tahun lebih muda. Sekitar tahun 200an, dia masih berumur sekitar 15an tahun. Suatu saat dia curhat kepada saya, dia sedih karena menurutnya tubuhnya tidak terlalu tinggi. Karena itu, dia tidak pernah baris di paling depan dan tidak terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera 17 Agustusan.

Padahal, Dian ini ingin sekali menjadi Paskibra. Dian semakin iri, tatkala temannya yang dipilih mewakilinya sekolahnya untuk menjadi Paskibra akhirnya berhasil menjadi anggota Paskibraka yang mengibarkan bendera di istana negara.

Saya sebagai sepupu akrabnya menasehatinya bahwa seharusnya dia tidak perlu sedih.

Menjadi orang tinggi itu sebenarnya sangat tidak mudah. Memang dia mudah dikenal karena tingginya, tetapi dia juga akan mudah ketahuan jika bolos upacara bendera. Orang tinggi mungkin terlihat keren dibanding orang pendek, namun biasanya orang tinggi itu agak susah mencari pakaian dan sepatu yang cocok bagi mereka.

Hal ini sama juga dengan orang yang selalu rangking satu. Sang juara ini belum tentu selalu Bahagia atas pencapaiannya itu. Terkadang bagi beberapa orang, prestasi itu menjadi beban. Bagi yang tidak bijak dan kuat mentalnya, anak ini akan menjadi stress dan frustasi ketika dia tidak menjadi juara. Atau bahkan bisa menyalahkan orang yang berhasil menyalip prestasinya.

Kejadian ini pernah saya dengar dari teman saya yang pada tahun 2000an sekolah di SMU Taruna Nusantara, sekolah yang waktu itu sangat keren karena banyak juara siswa teladan dari setiap provinsi yang berhasil diterima di sana.

Teman karib saya ini sebut saja Amir. Dia adalah juara umum bertahan di salah satu SMP negeri Payakumbuh. Namun apadaya Amir harus mengalami kejutan psikologis ketika dia tidak pernah menjadi juara kelas di SMA itu. Bahkan di awal bersekolah di Magelang itu, Amir sering merasa tertekan akibat nilai-nilainya yang nyaris sedikit di atas nilai minimum setiap kali ada ujian.

Untungnya setelah hampir setahun di sana si Amir bisa mengendalikan rasa ketidaknyamanan tersebut. Dia pada akhirnya menyadari bahwa bukan hanya dirinya sendiri merasakan, banyak temannya juga mengalami hal yang serupa. Karena tidak mungkin semua menjadi juara 1, lebih-lebih di sekolah yang inputnya dari siswa terbaik seluruh Indonesia.

Dan si Amir pun mulai menikmati menjadi siswa “biasa-biasa” saja.

Bagi saya, menjadi orang “biasa-biasa” saja itu banyak untungnya. Kita bisa bergaul dengan semua kalangan karena orang-orang yang demikian sangat banyak jumlahnya.

Saya juga tidak perlu terlalu jaim karena merasa saya bukan menjadi pusat perhatian. Tidak perlu terbebani untuk dilihat sebagai yang terbaik, yang tertinggi, atau yang terhebat.

Tidak perlu merasa malu sekali jika melakukan kesalahan kecil karena merasa belum tentu orang memperhatikan tindak tanduk kita setiap saat.

Maka, tidak perlu iri ketika melihat Gibran anak Presiden, ataupun Bobby Nasution mantu Presiden yang masih sangat muda yang berdasarkan hasil Quick Count berhasil mengungguli lawan politiknya dalam Pilkada.

Karena jika mereka sudah terpilih mereka akan menjadi sosok “tertinggi” dan “juara umum” tadi. Menjadi pusat perhatian yang setiap tingkah lakunya menjadi pembicaraan orang.

Photo by Ben Mack on Pexels.com

Jangan Terlalu Fanatik dengan Politik

Terkadang prihatin dengan kondisi sosial di Indonesia, terutama jika melihat dari komentar-komentar di media sosial. Ya, boleh dibilang ini akibat hiruk pikuk politik praktis di Indonesia.

Apalagi sejak kepulangan salah satu tokoh agama yang dikenal dengan aktifitasnya sangar dalam memerangi kemungkaran. Rakyat dibikin heboh, dengan komentar-komentar netizen yang pro maupun kontra. Pemberitaan di stasiun televisi berulang-ulang semakin menambah kecemasan bagi rakyat jelata, yang terkadang tidak tahu apa-apa.

Sering saya amati ada orang yang menggembar-gemborkan persatuan bangsa, tetapi di sisi lain dia menghujat, memprovokasi dan melontarkan perkataan kasar yang penuh penghinaan. Bagaimana bersatu jika kau hina diriku dengan kata-kata seperti itu???

Sebaiknya tidak perlu demikian, karena Politik itu hanyalah permainan, sandiwara dan siasat untuk meraih kekuasaan di suatu negara yang berhaluan demokrasi.

Banyak anak-anak milenial yang tentu saja secara tidak langsung dicekoki oleh agitasi-agitasi melalui kalimat-kalimat yang sarat akan unsur politis yang sebenarnya mereka juga tidak tahu kondisi nyata. Mereka hanya melihat dari tweet-an di media sosial, kelihatan seru dan kemudian langsung ditiru.

Apalagi ditambah adanya masa netizen bayaran, mirip dengan masa bayaran yang dibayar di saat demo.

Berkontribusi pada per-Politikan bukan suatu yang dosa, bahkan dianjurkan bagi anak muda. Namun harus diajarkan dengan cara yang benar. Pemuda yang berakhlak baik tentunya harus didorong untuk berpolitik karena jika tidak maka para penjahat dan koruptor yang berpolitiklah yang akan menjadi pemimpin daerah atau negara

Demokrasi yang Indonesia alami ini, semakin mengarah model negara-negara Barat lainnya. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, di sana sudah menjadi kebiasaan bagi partai Demokrat melawan pendukung partai Republik untuk saling mengkritisi. Saling mengungkit kesalahan tanpa memberikan solusi itu sudah jadi adat dan kebiasaan mereka. Penggunaan sindiran bahkan kalimat penghinaan menjadi tontonan sehari-hari di negara itu.

Bagi mereka, mungkin gaya politik seperti itu cocok bagi negara yang dibangun oleh peradaban eropa dan mewarisi budaya politik eropa. Dengan rakyat yang berasal dari berbagai ras, multi etnis, agama dan kepercayaan, mereka harus membangun suatu sistem yang sesuai dengan karakter manusia-manusia di sana.

Bagi orang Indonesia yang pernah ke Amerika Serikat, mungkin pernah merasakan perilaku sebagian besar warganya. Secara pribadi, saya melihat keterbukaan, professional dan rasa percaya diri yang tinggi menjadi ciri khas yang menonjol. Mereka sudah terbiasa dikritisi, bagi mereka seorang anak muda mengkritisi orang yang lebih tua itu sudah biasa.

Sedangkan di Indonesia, perpolitikan dibangun dengan cara yang berbeda. Jauh berbeda dengan negara-negara Barat sana.

Mengapa beda? Ya tentu saja dong. Manusianya beda, kulturnya beda, makanannya beda, iklimnya beda, alamnya beda.

Apa hubungannya dengan politik? Tentu saja ada. Meskipun kita mengadopsi gaya demokrasi trias politica yang kita impor dari Eropa, tetap saja yang menjalankan sistem tersebut adalah orang Indonesia sendiri.

Mayoritas orang Indonesia, dan beberapa orang Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Malaysia, Vietnam , Thailand sangat terkenal dengan sifat ramah tamah, bersahabat, sopan santun, menghargai yang lebih tua dan kekeluargaan tinggi.

Tutur Bahasa terkenal santun dan ramah kepada semua orang menjadi ciri khas yang sulit ditandingi oleh ras lain.

Lagi pula seperti yang disampaikan tadi, politik itu hanya sandiwara elit politik belaka. Contohnya pada saat Pilpres 2019 yang menghasilkan dua kutub yang berseberangan “Cebong -Kampret”, ternyata setelah terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo, saingannya Prabowo Subianto malah menjadi partnernya presiden, sebagai Menteri Pertahanan. Tetapi polarisasi cebong-kampret masih terasa sampai sekarang.

Tapi akibat hujat menghujat antar pendukung, masuk ke hati. Timbul dendam di sebagian orang sampai sekarang dan merusak pertemanan.

Dengan begitu demokrasi yang dijalankan tidak perlu meniru persis seperti orang-orang Amerika ataupun Eropa. Politik yang penuh penghujatan, penghinaan dan kata-kata pedas. Karena bagi kebanyakan orang Timur, meskipun yang disampaikan benar tetapi disampaikan dengan kata-kata kasar biasanya tidak akan diterima bagi yang mendengar. Setidaknya timbul rasa antipasti terhadap orang yang menghujat itu.

Anak-anak muda harus mengerti politik namun politik secara santun. Mengkritik orang yang tidak sealiran politik dengan kita boleh saja, tetapi hendaknya kritikan yang solutif dan tidak menyakiti perasaan apalagi membawa SARA.

Tetaplah berdemokrasi Pancasila secara santun karena kita orang Indonesia.

Seperti yang yang disampaikan Bung Karno “Kalau jadi hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang islam jangan jadi orang Arab, kalau kristen jangan jadi orang yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini

Belajar Bahasa Inggris Dengan Mudah dan Tidak Bikin Capek (2)

Baiklah kita lanjutkan…

Menulis, menurut saya adalah level tertinggi dari kemampuan Bahasa. Untuk penulisan informal seperti kirim WA ke teman itu relatif mudah, karena susunan kalimat dan pilihan kata tentu saja hampir sama dengan kalimat percakapan.

Namun menjadi hal yang cukup menantang jika dihadapkan dengan bentuk tulisan untuk tujuan akademik dan surat menyurat resmi.

Penulisan Bahasa Inggris untuk tujuan akademik biasanya diperlukan saat kita ingin mendaftar beasiswa ke perguruan tinggi di luar negeri. Maka biasanya akan ada test writing, yang tentu saja harus dipelajari teknik maupun formatnya.

Saat ini sudah banyak situs-situs yang menjelaskan tentang academic writing. Namun menurut saya memang perlu ada orang yang melakukan bimbingan secara langsung mengenai ini.

Berikutnya, mengenai surat menyurat resmi. Bahasa yang digunakan untuk surat menyurat resmi juga berbeda-beda.

Kalian bisa mencoba dengan berkorespondensi dengan situs-situs apa saja yang menyediakan kontak e-mail. Nanti akan ada e-mail balasannya. Nah, dari balasan e-mail tersebut dapat dicontoh bagaimana mengirim surat dalam Bahasa Inggris dengan gaya bahasa korespondensi.

Untuk meningkatkan kemampuan menulis ini, salah satu jurus yang paling jitu adalah banyak membaca tulisan-tulisan essay, jurnal dan berita-berita internasional. Kalian akan menemukan keberanekaragaman gaya tulisan dan pemilihan kata.

Tentu saja, selanjutnya giliran kalianlah yang mencoba untuk menulis.

Setelah itu sebaiknya cari partner yang bisa mengecek tulisan anda. Bagi pemula biasanya tulisan Bahasa Inggrisnya terlihat benar namun terkadang pemilihan kata-katanya kurang tepat. Atau dalam istilah saya “Bahasa Indonesia yang diInggriskan”.

Lebih beruntung lagi jika teman-teman sekalian punya kesempatan untuk belajar di luar negeri, gunakan kesempatan ini untuk mengecek sejauh mana tulisan anda dimengerti oleh orang asing.

Ukurannya adalah jika orang tersebut mengerti makna yang anda sampaikan berarti tulisan anda sudah benar.

Sekali lagi, semakin kalian banyak membaca maka akan mempengaruhi tulisan kalian.

Semakin banyak menulis maka semakin terlatih kemampuan kalian untuk menterjemahkan ide menjadi sebuah tulisan.

Resep Ketiga “BIASAKAN MENYUSUN KALIMAT DENGAN BAIK”

Kebetulan saya punya teman. Dia dulu menempuh kuliah di salah satu universitas negeri di Semarang dengan jurusan sastra Perancis. Dia bilang “prinsip utama dalam berkomunikasi adalah biasakan Menyusun kalimat dengan baik, bahakan dalam Bahasa sendiri”

Kadangkala, tanpa kita sadari, dalam berbicara menggunakan Bahasa Indonesia saja, terkadang susunan kalimat yang dilontarkan sangat amburadul.

Contohnya “ Sudah makan kamunya?”, “Sedang mbersihin kamar mandi akunya tadi”,

Nah, hal ini biasanya tanpa sadar akan mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk menggunakan gaya yang sama dalam menyusun kalimat dalam Bahasa Inggris.

Sebagai orang yang tumbuh dalam lingkungan non-English, sebaiknya kita biasakan menyusun kalimat secara teratur terlebih dahulu.

Kalimat dalam Bahasa Inggris selalu dimulai dengan urutan Subyek Verb , jangan dibolik-balik. Anda bayangkan bagaimana perasaan orang Bule ketika berbicara dengan teman-teman jika dibolak balik.

Pelafalan kita saja kadang tidak dimengerti oleh si Bule apalagi ditambah dengan susunan kalimat yang amburadul.

Mungkin ini kiat terakhir, “ FOKUS PADA PELAFALAN “PRONUNCIATION”.

Pengalaman saya pelafalan itu sangat penting. Lebih baik bicara irit dengan lafal yang jelas dari pada bicara banyak tetapi lafalnya kurang mantap.

Pelafalan ini menjadi sangat penting. Tirulah persis cara melafalkan kata demi kata dalam Bahasa Inggris. Persis bunyinya.

Keuntungan dari menguasai pelafalan ini yaitu selain kata-kata anda mudah dimengerti maka kalian juga akan terlihat mahir dalam berbahasa.

Dengan pelafalan yang baik pula, teman-teman akan sangat mudah berkomunikasi dengan orang asing. Perbanyan menonton film berbahasa Inggris, maka akan semakin meresap pula aksen Bahasa Inggris yang akan anda gunakan.

Itu dia tadi resep belajar Bahasa Inggris berdasarkan pengalaman saya. Semoga bisa membantu teman-teman sekalian yang ingin memperlancar Bahasa Inggris baik secara lisan maupun tulisan.

Belajar Bahasa Inggris Dengan Mudah dan Tidak Bikin Capek

Belasan tahun belajar Bahasa Inggris mulai dari SD sampai Kuliah bahkan bekerja tapi tidak pintar-pintar.  Sudah berbagai macam kursus Bahasa Inggris diikuti tetapi tidak ada kemajuan. Apanya yang salah ya???

Banyak Tempat Kursus Bahasa Inggris yang menjanjikan dapat menjadikan seseorang pintar Bahasa Inggris dalam waktu yang singkat. Namun percayalah, belajar Bahasa asing itu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Tetapi belajar Bahasa Inggris itu juga tidak sulit dan bisa dilakukan sambil santai.

Baiklah, saya akan bagi pengalaman saya belajar Bahasa Inggris yang mudah dan tidak bikin capek.

Saya termasuk orang yang dikategorikan di paragraph pertama tadi, belajar Bahasa Inggris dari s.d. sampai bekerja tapi tidak bisa-bisa. Bahasa Inggris saya saat baru saja menjadi karyawan di sebuah instansi pemerintah di tahun 2006 itu dapat digolongkan payah.

Percakapan dalam Bahasa Inggris masih sangat tidak lancar, masih banyak bengongnya karena harus memikirkan “Bahasa inggrisnya kata ini apa ya”. Itu baru percakapan, belum masalah tulis menulis. Sudah pasti kacau balau.

Beberapa kali saya ikut kursus Bahasa Inggris di SD, SMP, SMA bahkan kuliah, tapi yaaaaa karena saya juga sering bolos jadinya kemampuan saya selalu maju mundur.

Ketika saya melihat teman-teman saya yang bisa berbahasa Inggris mendapatkan promosi kair lebih bagus, akhirnya saya sadar bahwa memiliki kemampuan itu sangat menunjang pekerjaan. Mereka bisa kuliah di luar negeri, ikut meeting di negara orang bahkan mendapatkan posisi pekerjaan yang cukup strategis.

Kebetulan instansi tempat saya bekerja menyediakan kursus intensif Bahasa Inggris bagi karyawannya yang ingin meningkatkan mutu.

Singkat cerita, saya mendaftar di kursus itu, dan belajar selama 3 bulan.

RESEPNYA ADALAH…….

Pelajaran pertama yang saya dapatkan. JANGAN MALU.

Guru Bahasa saya bilang bahwa Bahasa Inggris itu bukan bahasa asli kita, sehingga wajar jika kita banyak tidak fahamnya.

Buang jauh-jauh perasaan bahwa orang yang kita ajak bicara lebih mengerti dari pada kita sendiri, hal ini berlaku kepada lawan bicara orang Indonesia. Apalagi jika dia tidak pernah tinggal di negara berbahasa Inggris dalam jangka waktu lama.

Pesan yang disampaikan oleh Guru saya benar adanya. Sebagai contoh saya sendiri yang pada akhirnya punya kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat selama setahun. Ternyata setelah satu tahun di AS dan setiap hari berbicara dengan orang bule, tetap saja saya sering tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.

Hal ini wajar karena kosakata dalam Bahasa Inggris itu sangat banyak, belum ditambah aksen, serta idiom. Tidak ada yang lebih tau makna Bahasa itu sendiri selain sang penutur.

Pelajaran kedua, RAJIN MENDENGAR, RAJIN MEMBACA, RAJIN MENULIS DAN RAJIN BERBICARA.

Belajar Bahasa itu sama dengan kita belajar nyetir mobil. Semakin sering diasah maka semakin lincah. Sebelum era internet 4G, saya sering mendownload siaran-siaran dalam Bahasa Inggris untuk kemudian didengarkan berulang-ulang secara offline. Tapi kini dengan kecepatan internet yang tinggi membuat kita dapat mendengarkan secara live radio online, bahkan menonton youtube.

Tidak masalah jika diawal-awal kita tidak terlalu mengerti materi listening atau percakapan. Ini merupakan hal yang lazim karena memori dan organ telinga kita butuh penyesuaian. Kelak berangsur-angsur dengan sendirinya kita akan mulai mengerti apa yang dibicarakan.

Kebiasaan mendengar/listening juga harus dibarengi dengan kebiasaan membaca pula. Lagi-lagi dengan layanan internet, kita bisa dengan mudah mendapatkan materi bacaan Bahasa Inggris. Namun perlu diingat bahwa sebaiknya dalam membaca artikel berbahasa Inggris, sebaiknya menggunakan portal yang dikelola oleh broadcaster asing.

Menurut pengalaman saya bagi pemula sebaiknya membaca berita-berita dalam Bahasa Inggris yang kosakatanya familiar bagi orang Indonesia. Sebagai contoh https://edition.cnn.com/ dan https://www.aljazeera.com/ karena menurut saya pribadi vocabularies yang ditulis memang sangat akrab dan penyusunan kalimatnya sederhana dan mudah dimengerti. Sementara di beberapa situs lainnya gaya Bahasa dan kosakata yang digunakan terasa agak rumit.

Untuk mempelajari kata kerja (verb) memang sangat dianjurkan mengikuti News tetapi jika ingin memperbanyak penyerapan kata benda (noun) atau sifat (adjektif) sebaiknya membaca Novel berbahasa Inggris. Karena biasanya dalam novel kaya akan deskripsi baik sifat maupun benda.

Selanjutnya, adalah berbicara. Cara mengasah kemampuan bicara adalah dengan cara berkomunikasi verbal langsung dengan native speaker atau orang yang memang dari sononya berbahasa Inggris.

Perlu diingat, Bahasa verbal itu sangat berbeda dengan Bahasa tulisan. Dalam pembicaraan, bahkan seorang native speaker tidak terlalu memperhatikan apa yang kita sebut dengan “grammar”. Sama hal nya saat kita berbicara dengan teman dalam Bahasa Indonesia. Adakah yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan susunan yang baik dan benar???

“Pergi kemana?” lebih sering digunakan dalam percakapan dari pada “Anda akan pergi kemana?”. Ya seperti itulah Bahasa.

Justru, cara yang terbaik dalam berbicara adalah meniru persis Native Speaker baik itu susunan kata, logat maupun pelafalannya.

Sebagai contoh di AS orang lebih sering menyapa dengan “Hii, Whats up?” ketimbang “How are you?”.

Permasalahannya saat ini, kemana mencari native speaker??? Banyak caranya, pernah ingat viral seorang kopral TNI yang bisa berbicara berbagai macam Bahasa asing?? Ya dia mencari teman melalui sosial media, kemudian sering diajak komunikasi via WA. Zaman sekarang apa yang tidak bisa??? Semua bisa dilakukan asal ada kemauan, dan tadi JANGAN MALU.

Naaah, terakhir ini agak sulit. Yaitu melatih kemampuan menulis…..

Baiklah untuk yang sulit kali ini, kita bahas di lain waktu ya…..

Bersambung……