Karantina Mandiri di Tengah Tsunami Corona

Pandemik belum usai, perjuangan belum berakhir….

By Sulaeman Anwar

Sengaja pengalaman ini saya ceritakan untuk menginformasikan kepada saudara-saudara se tanah air, yang bisa jadi, tetapi saya tidak berharap, juga akan menghadapi situasi yang sama. Apalagi diberitakan jika Covid-19 di Indonesia terutama di Jakarta semakin melonjak tajam.

Saya dapat cerita ini dari sobat karib saya sebut saja namanya Garuk Khan yang tinggal di India, yang kebetulan dia sangat pemalu, sehingga dia meminta saya untuk menceritakan kembali tentang ini.

Berikut kisahnya……

Kira-kira awal April, tiba tiba kasus Covid19 di India melonjak naik. Setelah berbagai macam kebijakan relaksasi yg dikeluarkan oleh pemerintah India sejak bulan Juli 2020, kasus aktif Covid 19 terus menurun, bahkan pada bulan Februari 2021 menyentuh angka di bawah 200 ribu.

Sebuah angka yang cukup membuat masyarakat India percaya diri untuk merasa bebas dari corona. Bagaimana tidak, dengan penduduk yang lebih dari 1,2 milyar orang, angka tersebut relatif sangat kecil.

Jalanan mulai macet, pasar-pasar mulai padat, bahkan beberapa kelas di sekolah dan universitas sudah melakukan tatap muka…

Orang-orang mulai makan-makan di restauran, bar-bar ramai kembali, acara nikahan dan seremonial lainnya pun sudah mengundang banyak orang.

Maklum, program vaksinasi sudah mulai berjalan. Ada rasa aman menyelimuti perasaan masyarakat dan rasa bosan akibat hampir setahun di rumah saja.

Di taman-taman kota di Delhi, banyak saya perhatikan masyarakat melepas masker dan satpamnya tidak menegur. Mungkin petugas keamanan sudah mulai bosan, atau barangkali punya perasaan yang sama. Kita sudah bebas Corona.

Meskipun pemerintah India sudah melarang masyarakat untuk merayakan festival holi, dimana penduduk India merayakannya dengan berpesta dan saling menaburkan warna warni ke seluruh muka dan badan, tetap saja masyarakat merayakannya.

Ditambah lagi dengan perayaan Kumbh Mela, yaitu perayaan mandi suci di sungai Gangga, perayaan yang dilaksanakan setiap 8 tahun ini dihadiri oleh jutaan orang. Festival yang itu  dilakukan selama sebulan penuh mulai awal bulan April 2021 di daerah Haridwar,Uttarakhand.

Belum lagi kampanye politik untuk pemilu di negara bagian seperti Assam, Kerala, Puducherry, Tamil Nadu dan West Bengal yang dihadiri oleh ribuan orang membuat resiko penularan semakin besar.

Akibat itu, penyebaran Covid mulai merangkak naik. Di awal Maret saja, penyebaran harian yg sebelumnya di bawah 10 ribu orang kini mulai menyentuh angka 40 ribu perhari.

Dan akhirnya tsunami Corona pun terjadi.

Sekira pertengahan April kasus Covid19 di India mulai menyentuh angka 200 ribu perhari. Pasien bertaburan, rumah sakit kehabisan ruang inap dan oksigen.

Bahkan pada tanggal 7 Mei kurang dari satu minggu menjelang lebaran tahun 2021, India pernah mencatatkan rekor sebanyak 414.188 penambahan pasien selama satu hari.

Di Delhi saja, kabarnya setiap diadakan pemeriksaan PCR, sekitar 30 % dari orang yang diperiksa terdiagnosa Covid-19. Artinya setiap 10 orang yang memeriksa berarti 3-4 orang terkena Covid-19, atau jika kita berkumpul dengan kerumunan orang, jika ada 20 orang berkumpul, maka kemungkinan sekitar 6 orang sudah terinfeksi.

Tepat di awal bulan Ramadhan, kejadian ini menimpa tempat kerja saya. Dimulai ketika rekan kerja saya menunjukan gejala tidak enak badan, kemudian dia memeriksakan diri setelah tidak kunjung pulih selama 3 hari lamanya. Dan hasilnya menunjukan dia positif Covid-19.

Tentu saja, sebagai langkah yang tepat, pemeriksaan terhadap seluruh pegawai wajib dilakukan.

Setelah menunggu kurang dari dua puluh empat jam,tepat tanggal 17 April 2017 dini hari menjelang sahur hasil keluar, dan saya dinyatakan positif. Sedikit kaget, tetapi saya tetap tenang karena saya yakin saya pasti bisa melewatinya, banyak kisah-kisah sukses dari teman-teman kantor yang pulih dari penyakit ini. Ditambah lagi pada saat itu saya tidak merasakan gejala apapun, entah itu batuk, letih, demam ataupun lainnya.

Tetapi tentu saja saya tidak mau meremehkan hasil diagnose ini. Meskipun secara pribadi saya sering meragukan hasil test PCR, terutama bagi pasien pistif yang tidak bergejala, namun sampai dengan detik itu metode ilmiah dan diakui oleh dunia medis adalah lazim dilakukan melalui tes PCR ini.

Pada kondisi seperti itu semua anggota keluarga harus berdisiplin. Istri yang kebetulan Alhamdulillah sehat dan tidak terinfeksi, berperan sebagai paramedis dan kami berperan sebagai pasien.

Memang sangat beresiko untuk mengisolasi diri di rumah ketika anggota keluarga yang lainnnya negative Covid. Namun ini saat itu tidak ada pilihan lain, karena rumah sakit tidak ada yang menerima pasien Covid-19 untuk rawat inap.

Sedikit saya ceritakan bagaimana dahsyatnya ledakan Corona khususnya di Delhi. Saat itu rumah sakit semuanya sudah tidak mampu lagi menampung pasien. Seluruh Rumah Sakit penuh, bahkan ada sebuah rumah sakit terkenal sampai angkat bendera putih karena kehabisan oksigen.

Ratusan bahkan mungkin ribuan orang mati setiap harinya. Krematorium tidak mampu lagi menampung kremasi warga yang meninggal akibat Covid-19. Sampai warga harus mengkremasi di taman-taman dengan menebang sebagian pohon untuk dijadikan kayu bakar.

Kembali ke cerita isolasi mandiri tadi.

Karantina mandiri di rumah sendiri bersama anggota keluarga lainnya benar-benar membutuhkan prosedur yang ketat dan diataati oleh semuanya.

Salah satu panduan yang wajib diatur salah satunya adalah masalah MAKAN.

Karena istri saya sehat, maka dia yang bertugas memasak makanan untuk sahur maupun buka puasa. Membeli makanan dari luar bukan pilihan yang tepat, masalahnya adalah selain pilihan makanan yang tidak sesuai dengan selera, juga pelayanan dari pesan online menjadi lambat akibat melonjaknya pemesanan.

Istri yang menyuplai makanan sahur dan buka. Makanan diletakkan di depan pintu saya yang kemudian saya ambil. Setelah istri meninggalkan tempat itu, saya keluar dengan menggunakan masker dan memindahkan makanan tersebut ke peralatan makan saya.

Setiap hari saya makan menggunakan peralatan makan yang saya cuci sendiri di dalam kamar mandi dalam kamar saya. Dan semua anggota keluarga diwajibkan tetap memakai alat makanannya sendiri-sendiri tidak boleh ditukar-tukar meskipun sudah dibersihkan.

Beruntung kami tinggal di rumah dengan 4 kamar yang di dalamnya terdapat kamar mandi sendiri, sehingga memudahkan kami untuk melakukan mikro isolasi. Urusan sanitasi pun menjadi mudah dan aman dengan kamar mandi itu.

Tidak lupa setiap pagi seluruh jendela dibuka, lantai dibersihkan dengan pembersih lantai dan tidak lupa dilakukan sanitasi di seluruh ruangan termasuk kamar saya.

Urusan berikutnya yang tidak boleh disepelekan adalah cuci baju. Tidak mungkin selama berminggu-minggu saya tidak ganti baju. Bisa jadi tambah penyakit kulit jika baju dan pakaian dalam tidak diganti.

Caranya, pakaian kotor saya tampung dulu di dalam keranjang selama 3 hari, agar istri tidak sering menyentuh pakaian saya yang mungkin sudah terkontaminasi virus.

Kemudian sebelum diangkut ke mesin cuci, seluruh pakaian tadi disemprot dulu dengan cairan disinfektan.

Saat itu tidak mungkin kita menggunakan jasa laundry, karena semua jasa cuci tutup.

Akhirnya pakaian saya di cuci di mesin cuci. Karena kami hanya punya satu mesin cuci, sehingga pencucian dilaksanakan pada hari yang berbeda. Dengan tujuan agar pakaian orang yang sehat tidak bercampur dengan yang sakit.

Akhirnya, metode isolasi yang kami jalani membuahkan hasil, tepat hari ke delapan tanggal 27 April, saya dinyatakan negative Covid setelah melakukan tes PCR kembali.

Kini Covid-19 di India mulai menjinak. Beberapa negara bagian di India sudah menunjukan tren penurunan yang cukup menggembirakan dan mulai membuka lockdown. Di pertengahan bulan Juni saja, Delhi sudah merelaksasi aktifitas warganya, bahkan pemerintah sudah mengizinkan kembali restoran untuk membuka layanan dine in dengan kapasitas 50 %. Pemerintah pun sudah membangun oxygen plant untuk menyiapkan jika sewaktu-waktu terjadi gelombang ke 3, sehingga kejadian mengerikan pada gelombang kedua tidak terulang kembali.

Saya pun berdoa agar kejadian ini tidak terjadi lagi dimanapun dan kapanpun juga di dunia ini….