Jangan Samakan Alkohol Dengan Agama

By; Saladin Usman

Istilah Mabuk Agama atau mabuk Ayat kembali menghangat ketika pemerintah mengeluarkan Perpres Nomor 10 tahun 2021 tentang bidang usaha penanaman modal dengan salah satu lampiran yang mengatur investasi industri minuman keras.

Komentar dari pendukung investasi minuman beralkohol yang sangat tidak patut, dan dipampangkan ke media sosialnya, salah satunya seperti ini “lebih berbahaya mabuk agama daripada mabuk alkohol”.

Sungguh pendapat yang tidak bijak dan cenderung melecehkan agama.

Kata “mabuk” menurut https://kbbi.web.id , bermakna merasa pening atau hilang kesadaran (karena terlalu banyak minum minuman keras, makan gadung, dan sebagainya); 2 berbuat di luar kesadaran; lupa diri:; 3 ki sangat gemar (suka; 4 ki tergila-gila; sangat berahi.

Berdasarkan makna di atas , maka makna yang paling pas untuk mabuk agama artinya sangat gemar akan agama. Apa ini bermakna konotatif???

Orang Indonesia menurut Pew Research Center menyatakan bahwa 96 % orang Indonesia percaya kepada Tuhan dan memiliki nilai-nilai baik.

Bukankah seluruh agama di Indonesia, seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Kejawen dan kepercayaan lainnya semua mengajarkan hal-hal yang baik-baik?

Maka jika ada orang yang dikatakan sebagai mabuk agama, seharusnya bermakna positif.

Namun oleh sebagian kecil orang, mabuk agama tadi dikonotasikan negatif.

Sewaktu ideologi komunis masih berkibar istilah agama itu candu sangat terkenal. Bahkan Partai Komunis Indonesia menjadikan para kyai dan pemuka agama sebagai musuh ideologi ini. PKI memberikan stigma kepada Kyai, Haji dan Guru Ngaji sebagai tiga setan karena dianggap menghalangi pengaruh politik PKI di desa-desa.

Sekarang ini, mungkin yang dimaksud dengan mabuk agama adalah diperuntukkan bagi orang-orang yang membenarkan tingkah laku, pandangan politik ataupun hasratnya dengan membawa-bawa ajaran agama yang diyakininya.

Atau mempersalahkan suatu kondisi masyarakat /kebijakan pemerintah dengan alasan bertentangan dengan aturan suatu agama.

Jika arti ini yang dimaksud, tentunya tidak pantas menyandingkan agama dengan miras.

Agama menjadi hal yang sakral, sementara miras dianggap oleh rakyat Indonesia yang sebagian besar umat Muslim sebagai sesuatu yang diharamkan.

Tentu saja, melegalisasi suatu kejahatan seperti terorisme dengan dalil agama merupakan suatu yang tidak dapat dibenarkan, namun menyandingkan jargon mabuk agama dengan mabuk miras sungguh sesuatu yang tidak layak dan merendahkan.

Photo by Oleg Magni on Pexels.com