Kapal Selam Tankinya Bocor

By Irawan Kosasih

Tenggelamnya KRI Nanggala 402 di perairan utara Bali menyadarkan kita bahwa peralatan perang bukan hanya sebagai sarana pertahanan bangsa tetapi juga wibawa negara di mata dunia. Berita ini kemudian menjadi perbincangan hampir seluruh masyarakat Indonesia dan diberitakan pula di dunia internasional. Bahkan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea turut menyatakan simpatinya dan bersedia membantu keluarga korban.

Tidak berhenti sampai di situ, beberapa pemerhati pertahanan membahas kejadian ini di berbagai virtual seminar. Deddy Corbuzier pun, seorang artis yang biasanya menampilkan artis, selebritis, influencer di akun Youtubenya dan membahas gosip-gosip yang bertema relatif santai, turut memanggil nara sumber untuk berbicara tentang tema yang sangat serius ini.

Artinya apa? Masyarakat sudah mulai resah dan prihatin dengan pertahanan negara khususnya kondisi Alat Utama Sistem Senjata Indonesia (Alutsista). Apalagi, selain masalah pertahanan dan wibawa negara, ada isu penting lainnya yang tidak kalah genting yaitu gugurnya para prajurit TNI pada saat latihan dan bukan pada saat pertempuran. Ditambah lagi, kesedihan para keluarga yang ditinggalkan tentu saja menarik simpati dan empati masyarakat yang sangat awam tentang masalah Alutsista ini.

Permasalahan Alutsista ini memang tidak gampang, sebagaimana dengan apa yang disampaikan oleh Menhan RI Prabowo Subianto. Banyak lika-liku pemenuhan Alusista untuk mempertahankan NKRI ini.

Perencanaan dan pembiayaan untuk pemenuhan satu jenis Alutsista bukan hanya meliputi pembelian saja, namun juga harus melingkupi pemeliharaanya juga. Bahkan lamanya waktu pemesanan juga harus dipertimbangkan dengan seksama karena bisa jadi ketika barangnya selesai diproduksi, senjata tersebut tidak sesuai lagi dengan kebutuhan yang ada.

Sebagai contoh, India dan Perancis sudah menandatatangani kontrak sebesar €7.87 billion pengadaan 36 Rafale multi-role fighter jets pada bulan September 2016, dan jet tempur itu baru datang pertama kali ke India pada bulan Juli 2020, hampir 4 tahun lamanya. Kedatangan pesawat itupun secara bertahap, sedangkan India saat ini sedang menghadapi militer China di perbatasan darat Ladakh.

Setelah senjata berhasil dibeli, tentu saja butuh perawatan. Artinya, kita juga butuh suku cadang yang tentu saja biasanya hanya bisa dipenuhi oleh pabrikan yang membuat. Dengan demikian konsumen juga memiliki ketergantungan terhadap negara asal. Negara produsen bisa saja menghentikan produksi suku cadang karena kendala teknis ataupun alasan ekonomi. Bahkan isu suku cadang ini menjadi masalah ketika negara produsen memiliki agenda politik terhadap negara pengguna. Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Amerika Serikat pernah mengembargo suku cadang pesawat F16 Indonesia gara-gara ketidak sukaan mereka dengan militer Indonesia di pada tahun 1999.

Belum lagi masalah biaya. Dana yang digelontorkan untuk membeli Alutsista tersebut tentu saja sangat mahal. Saya rasa Indonesia sebagai negara yang kaya raya punya cukup dana untuk membeli berbagai macam Alutsista namun tentu saja sangat menguntungkan jika kita dapat membeli senjata canggih dengan dana seminimal mungkin. Atau lebih bagus lagi jika uang yang kita gelontorkan untuk membeli Alutsista itu kembali kepada rakyat sendiri.

Lantas bagaimana caranya untuk mencukupi Alutsista seharusnya dilakukan?

Tentu saja jawabannya adalah “Produksi Secara Mandiri”

Apa Indonesia sudah melakukannya? Sudah, Indonesia sudah memproduksi pesawat terbang, kapal laut, senapan serbu, Armour Personel Vehicle (APV) Anoa, mobil taktis Maung dan masih banyak lagi. Meskipun banyak komponen yang masih diimpor dari luar negeri, namun setidaknya produksi akhir dan kontrol penuh ada di tangan pemerintah Indonesia.

Memang, produksi sendiri itu sangat tidak mudah.

Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, negara sudah mendorong kemajuan industri pertahanan dengan penerbitan Undang-Undang No 16 tahun 2012. Dalam UU tersebut diatur bahwa Indonesia tidak boleh mengimpor Alutsista yang dapat diproduksi di dalam negeri. Jikapun harus mengimpor maka harus ada persentase kandungan kandungan lokal yang harus dipenuhi.

Ini menandakan bahwa negara memang memiliki strategi untuk memproduksi senjata secara mandiri.

Akan tetapi, tekhnologi yang kita miliki tertinggal jauh dari senjata yang diproduksi oleh negara maju seperti AS, Rusia, Inggris dan negara eropa lainnya. Indonesia masih belum bisa memproduksi sendiri jet tempur multi role fighter, air defence system, kapal induk, roket artileri, main battle tank, air space system, dan masih banyak lagi lainnya.

Melihat dari negara seperti China dan India, mereka membeli peralatan tempur dalam jumlah besar dari negara-negara barat, yang kemudian mereka tiru. “ Copy Paste” ini dilakukan karena langkah ini merupakan jalan pintas yang paling mungkin dilakukan. Anda bayangkan jika para ilmuwan Indonesia harus memulai penelitian dari nol, maka waktu yang digunakan akan sangat lama sementara ancaman sudah di depan mata dan berkembang sangat cepat.

Sejak menjabat sebagai Menhan RI, Prabowo Subianto dengan mendatangi negara-negara yang mampu memproduksi senjata-senjata canggih. Diplomasi militer seperti inilah yang perlu dilakukan untuk dapat mendongkrak dan mengakselerasi pemenuhan kebutuhan Alutsista modern.

Alih tekhnologi tidak mungkin diberikan secara cuma-cuma oleh negara produsen bukan???

Masalah yang tidak kalah pentingnya adalah lagi-lagi masalah biaya. Produksi senjata secara mandiri juga butuh biaya baik itu untuk riset maupun proses produksi itu sendiri. Belum lagi setelah diproduksi, senjata ini lantas akan dijual kemana? Apakah bisa menguntungkan rakyat secara ekonomi?

Mendirikan pabrik senjata tentu saja pasti membuka lapangan pekerjaan. Banyak tenaga manusia Indonesia yang dapat diserap melalui industri pertahanan ini. Belum lagi dengan berdirinya suatu pabrik akan meningkatkan kebutuhan logistic dan konsumsi di daerah dimana parbrik itu didirikan. Tentu saja, ekonomi warga sekitar akan bergairah.

Banyak pakar yang mengatakan bahwa pabrik produsen Alutsista juga jangan hanya memproduksi senjata saja. Namun dengan bahan dan mesin yang dimilikinya juga dapat memproduksi peralatan yang bermanfaat secara langsung bagi masyarakat.

Sebagai contoh Pindad yang sudah menciptakan Anoa dan Maung, mungkin dapat memproduksi juga tractor untuk para petani. Atau PT DI yang sudah memproduksi pesawat angkut serta PT. PAL yang juga merakit kapal sehingga produksi kapal dan pesawat terbang itu menjadi alat transportasi yang dapat menghubungkan pulau-pulau yang berjumlah ribuan.

Dan tentu saja, barang produksi dari perusahaan BUMN ini hendaknya dapat dibeli oleh masyarakat Indonesia baik oleh institusi pemerintah maupun swasta.

Meskipun mungkin di awal kualitas barang yang diproduksi tidak sebagus produksi luar negeri, setidaknya dengan membeli produksi dalam negeri, akan turut membesarkan perusahaan milik rakyat sendiri. Tentu saja peningkatan kualitas butuh waktu dan dukungan finansial dari konsumen terutama pembeli dalam negeri.

Dengan sistem ini semoga industri pertahanan Indonesia terus bertahan dan ajeg, bisa memberikan keuntungan secara finansial, sosial, maupun pertahanan keamanan. Dan yang terpenting semoga tidak ada lagi “Kapal Selam Tankinya Bocor Timbul Tenggelam di Perbatasan

Profesi Yang Tak Pernah Mati

Profesi prajurit,militer atau tentara akan selalu dibutuhkan. Pertahanan/ defence selalu menjadi insting dan naluri manusia dalam bertahan hidup. Entah dalam bentuk apa self-defence itu, tentunya reaksi pertama yang dilakukan oleh manusia saat mendapat tekanan dan ancaman adalah melakukan pembelaan diri. Berlaku juga dalam mekanisme suatu negara…

Teknologi Drone yang semakin maju apalagi dengan berkembangnya teknologi Artificial Intelijen tentu saja mengubah paradigma pertempuran. Banyak alat-alat tempur yg sudah unmaned, dikontrol melalui jaringan nirkabel jarak jauh. Dan menariknya tekhnologi itu bukan hanya dikuasai oleh blok barat saja, tetapi mulai diikuti oleh negara besar di Asia. Berarti mungkin suatu saat nanti skenario perang robot lawan robot atau bahkan smart robot vs manusia seperti dlm adegan film Terminator, tidak bisa dihindarkan.

Lantas, klo sudah demikian apa profesi prajurit tidak dibutuhkan lagi???Tentu saja tidak.

Profesi itu akan bertransformasi menyesuaikan  situasi. Saat artificial intelligence sudah sangat lazim diinstall pada alat tempur, maka dibutuhkan prajurit yang dapat mengefektifkan penggunaan sekumpulan “prajurit robot” tadi. Jangan sampai alat yang hebat itu menjadi kurang efektif daya tempurnya atau karena terlalu mengandalkan mode otomatis malah membahayakan pasukan sendiri. 

Contohnya : Balik lagi ke film Terminator, robot pintar yang diciptakan oleh manusia, naasnya malah membunuh manusia itu sendiri. Lantaran robot itu kemasukan virus, yang membuat program komputernya memerintahkan robot untuk menyerang manusia.

Bahkan, profesi militer akan menjadi semakin menantang.Karena negara2 besar berlomba lomba menguasai ruang angkasa. Untuk apa? Selain untuk ilmu pengetahuan demi kesejahteraan manusia, mereka ingin berkompetisi untuk menciptakan senjata yang bisa dipasang di luar bumi.

Lantas apakah prajurit harus dididik jadi ilmuwan yang bisa menciptakan satelit? Tentu tidak perlu, karena sudah sudah ada profesional lain yang menguasainya. Tugas prajurit adalah bagaimana menggunakan satelit sendiri untuk serangan dan bagaimana untuk menetralisir/menghancurkan satelit lawan untuk pertahanan.

Teringat ungkapan dari seorang pensiunan jenderal di Indian Army saat diadakan seminar sebelum wabah Covid-19 melanda yaitu tentang perang masa depan. ” Tugas ilmuwan untuk meluncurkan satelit tetapi tugas militer adalah menghancurkannya”

Jadi…., Profesi prajurit akan selalu ada. Dan kemampuannya akan terus menyesuaikan sebagai end user dari tekhnologi terkini.