BTS Meal dan Kekuatan Budaya

By Andrea Y.A

Indonesia kembali heboh dengan budaya Korea Selatan. Apa itu ? BTS Meal yang dijual di Mc Donald di seputaran kota Jakarta.

Di Jakarta khususnya, terjadi antrian Panjang dari ojek online untuk mengantri pesanan BTS Meal yang dipesan oleh konsumen. Mengapa begitu heboh? Silakan tanya sendiri kepada yang memesan.

Menurut saya ada beberapa kemungkinan sehingga banyak orang memesan BTS Meal ini, yang pertama, penggemar boyband Korea yang penasaran ingin mengoleksi segala macam berbau BTS, kedua; provokasi dari antek-antek tim marketing dari si penjual agar barang dagangannya terlihat heboh dan ketiga; orang-orang yang sekedar ikut-ikutan ingin tahu BTS Meal yang sedang ngetrend.

Padahal di negara lain, BTS Meal belum tentu viral, contohnya di India. Selain memang budaya Korea di India tidak populer, juga karena rasa yang disajikan jauh berbeda dari selera masyarakt India, yang semuanya serba Masala (bumbu rempah). Malah sebaliknya beberapa menu KFC maupun McD dimodifikasi agar mendekati lidah lokal. Contohnya antara lain, Ayam goreng KFC dengan nasi biryani, minuman soda plus masala, dan ayam tandoori.

Betapa hebatnya budaya Korea menginvasi Indonesia. Budaya K-Pop dan Korean Movie memiliki penggemar fanatik yang cukup banyak di Indonesia.

Bukan suatu masalah jika budaya asing masuk ke Indonesia, selama itu mengandung nilai-nilai positif. Seperti Jepang yang terkenal dengan kedisiplinan, kerja keras dan kebersihannya, patut ditiru dan juga Amerika Serikat yang tepat waktu. Lagi pula, sedari dulu bangsa Indonesia selalu terpapar oleh budaya-budaya asing, entah itu makanan, pakaian, tarian, bahkan tulisan.

Sebagai contoh, pada tiga generasi lampau, orang-orang melayu di Sumatera menggunakan tulisan Arab berbahasa Melayu dalam berkorespondensi. Makanan khas Palembang, diyakini merupakan perpaduan antara budaya Palembang asli dengan budaya Tiongkok yang menghasilkan makanan dengan nama-nama unik seperti Pem-Pek, Tekwan, Laksan, Burgo, dan lain-lain. Bahkan jika dilihat dan dirasakan makanan kari-karian seperti di daerah Sumatera Barat maupun Aceh hampir menyerupai makanan di daerah Asia Selatan seperti India, Pakistan,Bangladesh maupun Sri Lanka meskipun tentu saja rasanya berbeda.

Asimilasi di atas adalah konsekuensi dari interaksi manusia. Bahkan di dalam negeri sendiri asimilasi budaya antar daerah sangat terasa. Mungkin banyak yang tidak tahu jika saat ini, di Manokwari, Papua Barat, oleh-oleh khas yang berupa abon Roti Abon Gulung itu bukan dibuat oleh penduduk asli Papua. Rotinya tebal, abonnya banyak dan rasanya kaya, ditambah dengan packing yang rapi dan mudah dibawa membuat makanan khas ini mudah dikenal.

Maklum saja, posisi Indonesia yang strategis sebagai tempat pelintasan kapal-kapal dagang dari dunia Timur menuju dunia Barat, begitu sebaliknya. Selain itu Indonesia juga menjadi tempat tujuan pencarian rempah-rempah yang memberikan sumbangan besar akan kenikmatan kuliner di seluruh dunia. Sehingga banyak bangsa asing yang berinteraksi dengan nenek moyang kita dulu.

Yang menjadi masalah adalah, jika kita orang Indonesia terlalu mengagung-agungkan secara berlebihan budaya asing tersebut. Sebagai contoh, kita memandang rendah orang yang makan di Warteg dan memandang keren bagi yang nongkrong di Burger King. Atau menganggap makan keju lebih modern daripada makan tempe.

Apalagi, jika menganggap seluruh yang dilakukan oleh negara yang menjadi idola dianggap benar, atau menganggap kultur Indonesia norak, kampungan dan ketinggalan zaman, ini yang bahaya!!! Jika sampai pada level ini, maka anda sudah terjajah oleh budaya asing.

Pada dasarnya produk luar negeri itu menjadi “terlihat” lebih keren karena budaya itu baru dan menarik, sehingga menimbulkan rasa penasaran dan ketertarikan kita yang belum pernah merasakannya. Padahal sebaliknya, bagi warga asing, banyak Budaya Indonesia yang tidak kalah mempesona, contohnya batik yang sudah banyak dipakai orang bahkan sampai di Afrika. Kemudian, Indomie, mie instan yang sudah merambah sampai ke Afrika, India, ataupun Arab Saudi bahkan sampai ke Serbia. Pencak Silat menjadi lebih mendunia setelah film The Raid ditayangkan di manca negara.

Bagi orang Korea, tentu saja merupakan suatu keuntungan bagi mereka jika pesona BTS berhasil membuat anak-anak muda Indonesia tergila-gila dan histeris. Karena, ini mengandung arti bahwa karya mereka diakui oleh negara lain. Bagi semua orang, tentu akan merasa senang jika karya dan hasil pemikiran mereka dinikmati, diakui dan dihormati oleh orang lain, bukan???

Maka daripada itu, rakyat Indonesia harus dapat membuat diri sendiri bangga, yaitu dengan cara berkarya dan berbudaya. Ciptakanlah karya-karya yang orisinil dari ide sendiri, kemudian perkenalkanlah kepada dunia melalui media sosial. Saling mendukung karya anak negeri dengan menggunakan produk-produk yang dihasilkan.

Jangan bereaksi terlalu berlebihan jika ada negara lain yang mengklaim budaya milik Indonesia. Toh, ini sama artinya mereka mengakui budaya Indonesia itu sebagai kreasi yang luar biasa dan patut dibanggakan.

Semoga saja, dengan produktifitas , olah fikir dan kreativitas seluruh rakyat Indonesia, suatu saat penduduk Seoul akan mengantri membeli es cendol dengan merek “Manis Manja Grup (MMG) sebagai balasan “serangan” BTS ini.

Dulunya Modern, Kuno (baca: tradisional) Sekarang

Judul apa ini??? 
Maksudnya itu begini….


Segala sesuatu yang dibilang tradisional, seperti tari tradisional, baju tradisional, budaya tradisional, dst itu sebenarnya disebut modern atau kekinian pada masanya


Tradisional dan modern hanyalah persepsi waktu.


Sebagai contoh, sendra tari Ramayana yang sering dipentaskan di kompleks candi Prambanan sebenarnya adalah “tarian fusion” campuran dari kebudayaan Hindu di India. Ramayana sejatinya berasal dari India. Lihat saja background lokasi ceritanya, perjalanan Rama Sita dari kerajaan Ayodhya sampai berjalan menuju kerajaan Rahwana di Sri Lanka.
Pada masa penduduk Jawa masih menganut ajaran Hindu, tarian atau pertunjukan ini tercipta karena ada perpaduan budaya India dan Jawa. Saat itu kalau ada yang mempertontonkan acara ini dibilang keren dan kekinian. Namun pada masa sekarang ini disebut tradisional.


Sementara K’Pop Dance yang menjadi budaya Korea saat ini sangat jauh dari gerakan tarian yang lazim dipertunjukkan oleh Korea beberapa dekade lalu. Tarian ini malah lebih ke Barat-Baratan. 
Yang menjadi ciri khas K’ Pop itu yaitu lagunya dinyanyikan dalam bahasa Korea, dengan diiringi house musik, pop maupun disco dan pasti dibawakan oleh orang Korea.


Dan saat ini, silakan ditanya apa yang menjadi ciri khas budaya Korea Selatan, ya salah satunya K’Pop. Dan mungkin suatu saat nanti, model tarian ini akan menjadi tradisional juga.
Maka jangan heran jika suatu saat nanti, yang namanya dangdut koplo khas Pantura bisa jadi akan menjadi ciri khas Indonesia. 

Oleh karena itu, ada baiknya memang seniman Indonesia berlomba lomba menciptakan suatu seni yang baru dan tetap dibumbui dengan budaya ciri khas Indonesia saat ini. Lebih bagus lagi jika seni tersebut dapat diterima dengan mudah secara global terutama oleh anak-anak muda…
Ayo berkarya….